JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono meminta penjelasan kepada Jusuf Kalla atas peristiwa saat kampanye yang dilakukannya di Asrama Haji Medan, hari ini, yang dinilai telah melakukan kampanye hitam.
"Itu bukan kampanye negatif, tetapi sudah kampanye hitam, kampanye jahat," ucap Rizal Mallarangeng, juru bicara Timkamnas SBY-Boediono saat jumpa pers di Bravo Media Center (BMC) Jakarta, Rabu (24/6).
Dalam jumpa pers tersebut, Rizal menunjukkan rekaman JK saat kampanye di Medan yang ditayangkan TV One pukul 12.07. Dalam tayangan tersebut terlihat seseorang membagikan selebaran artikel yang ditulis oleh Habib Husein Al Habsy dengan judul "Apa PKS Tidak Tahu Istri Boediono Katholik" kepada pengunjung kampanye.
Rizal mengatakan, ia tidak mengetahui apakah JK tahu atau tidak tentang dibagikannya selebaran gelap tersebut. "Yang kita lihat di ruangan yang ada Wakil Presiden dan calon presiden akan berbicara, fitnah gelap dilakukan," tegasnya.
Herawati, istri Boediono, kata Rizal, adalah seorang muslimah yang saleh, memegang teguh keyakinan dan tidak mau memolitisasi agama. "Itu prinsip beliau," tegasnya.
Ia sangat menyayangkan atas peristiwa tersebut yang menunjukkan rendahnya etika dalam berkampanye. "Kami sebagai Timkamnas bertanya kepada JK, apakah sedemikian rendah moralitas dan etika dalam berpolitik," ucapnya.
Untuk itu, lanjutnya, Timkamnas SBY-Boediono menuntut JK dan Timkamnas JK-Wiranto untuk menjelaskan sekaligus meminta maaf atas peristiwa tersebut. "Permintaan maaf harus dilakukan oleh JK sebagai penanggung jawab tertinggi kampanye kepada Ibu Boediono," lontarnya.
Langkah selanjutnya, kata Rizal, Timkamnas akan menindaklanjuti ke Panwaslu untuk memberikan peringatan mana yang pantas dan tidak dalam kampanye. "Kita lagi susun untuk menindaklanjuti," tegasnya.
Rizal membantah ketika ditanya wartawan apakah tuntutan itu dilakukan karena turunnya elektabilitas SBY-Boediono yang baru dirilis Lembaga Survei Indonesia. "Tidak ada urusannya dengan elektabilitas yang turun," lontarnya.
