Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 04:41 WIB
JK-Wiranto Mulai "Curi Jatah" SBY-Boediono
Inggried Dwi Wedhaswary | Rabu, 24 Juni 2009 | 11:12 WIB
|
Share:

PERSDA NETWORK/BIAN HARNANSA
Pasangan capres-cawapres Jusuf Kalla-Wiranto memberi salam kepada wartawan sebelum pengundian nomor urut masing-masing pasangan capres cawapres peserta Pemilu 2009, Sabtu (30/5) di gedung KPU.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Kenaikan elektabilitas sekitar 2-3 persen pasangan JK-Wiranto mengambil suara pasangan SBY-Boediono. Berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), JK-Wiranto memperoleh 9 persen atau naik dibandingkan survei terakhir pada akhir Mei.

Pasangan SBY-Boediono elektabilitasnya masih di posisi puncak, 67 persen, meskipun turun 3 persen dari survei sebelumnya (70 persen). Hal itu dikatakan peneliti senior LSI, Burhanuddin Muhtadi, sebelum jumpa pers hasil survei, Rabu (24/6) di Jakarta.

Burhanuddin mengatakan, kenaikan elektabilitas JK-Wiranto terjadi di daerah perkotaan. "Kenaikannya terutama di daerah perkotaan, seperti di DKI Jakarta. Kenaikan elektoral JK-Wiranto diambil dari SBY-Boediono," kata Burhanuddin.

Namun, kenaikan ini, menurutnya, terjadi secara linier, bukan eksponen. Artinya, Burhan menyebut, kenaikannya berupa "petasan" dan bukan "ledakan". "Kalau ingin mendapatkan ledakan kenaikan elektoral, JK-Wiranto harus melakukan upaya secara masif, tidak hanya di kota yang pemilihnya rasional. Lakukan terobosan luar biasa untuk menarik pemilih nonrasional di pedesaan," tuturnya.

Sementara itu, pasangan Mega-Prabowo yang stagnan di tingkat elektabilitas 16 persen, menurutnya, harus menggenjot lebih keras kerja tim suksesnya. Jika JK-Wiranto mengalami kenaikan linier dan Mega-Prabowo stagnan, tidak akan bisa mengurangi elektabilitas SBY-Boediono secara signifikan. "Kalau mau mengambil elektabilitas SBY-Boediono secara signifikan, JK-Wiranto dan Mega-Prabowo harus naik secara eksponensial," ujar Burhanuddin.