Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 04:41 WIB
Prabowo "Obat Generik", Boediono "Main Aman", Wiranto "Top Form"
Inggried Dwi Wedhaswary | Selasa, 23 Juni 2009 | 22:15 WIB
|
Share:

DHONI SETIAWAN
Tiga kandidat Cawapres, Prabowo Subianto (kiri), Boediono (temgah) dan Wiranto (kanan) mengikuti Debat Cawapres yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hall Senayan City, Jakarta Selatan, Selasa (23/6).

JAKARTA, KOMPAS.com — Debat calon wakil presiden ternyata cukup meninggalkan kesan. Beberapa catatan diberikan oleh pengamat politik, Burhanuddin Muhtadi. Ia berpendapat, debat cawapres sedikit lebih baik dari sisi kualitas dibandingkan debat capres.

"Tapi iklan-iklan komersial masih menggangu," kata Burhanuddin kepada Kompas.com, Selasa (23/6) malam. Pertanyaan-pertanyaan moderator dinilainya lebih menukik.

Bagaimana dengan cawapresnya sendiri? Prabowo, menurut peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) ini, mengandalkan "obat generik"-nya, yaitu ekonomi kerakyatan.

"Prabowo terlalu menjadikan ekonomi kerakyatan sebagai obat generik. Semua masalah dijelaskan dengan kacamata materialistik. Akibatnya, kurang elaboratif dan kurang solutif terhadap masalah pendidikan, konflik sosial, dan lain-lain," paparnya.

Boediono yang tampil dengan pembawaan kalem, dalam kacamata Burhanuddin, terlihat sangat menghindari provokasi dan bermain aman. Pada beberapa bagian saling menjawab, Wiranto sempat memancing Boediono dengan kritikan atas jawaban yang disampaikan.

"Boediono kalem, argumentatif, berisi, tidak mau terpancing provokasi. Tapi artikulasi (berbicara) Boediono kurang cepat," ujarnya.

Penampilan pendamping Jusuf Kalla, Wiranto, mendapatkan penilaian paling positif. Pada sesi saling menanggapi, Ketua Umum Partai Hanura itu dinilai tampil top form dengan performa optimal.

"Tanggapan-tanggapan Wiranto cukup bernas, artikulatif, dengan joke-joke segar, meski secara substansi kurang dilengkapi langkah-langkah konkret," urai Burhan.