JAKARTA, KOMPAS.com — Isu jati diri bangsa seyogyanya menjadi persoalan serius dalam kehidupan berbangsa kita. Namun, sayang persoalan ini hanya menjadi bahan debat untuk cawapres, bukan debat capres sebagaimana diberitakan sebelumnya.
"Ini sangat penting," kata Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat saat ditanya apakah penting jati diri bangsa dijadikan bahan debat capres dalam kesempatan "Silahturahmi dan Tukar Pikiran Komunitas Jati Diri Bangsa" di Jakarta, Kamis (18/6).
Menurut Komaruddin, yang dibanggakan oleh suatu bangsa bukan tingginya gross national product (GNP), tetapi bagaimana peradaban bangsa tersebut, jati dirinya. Lalu ia membandingkan, yang dibanggakan orangtua bukanlah kekayaan dan kepintaran anaknya, tetapi terlebih karakter anaknya yang baik.
"Negara-negara tetangga telah memiliki karakter yang jelas, sedangkan kita belum. China, Korea, dan Jepang punya karakter malu jika pejabatnya berbuat salah, Indonesia?" papar Komaruddin.
Lebih lanjut, ia menegaskan, lemahnya karakter bangsa kita merupakan imbas dari lemahnya sistem pendidikan kita. "Pendidikan kita kurang sekali memperkenalkan anak didik pada sikap nasionalisme, patriotisme, dan kebanggaan pada Indonesia," ungkap Komaruddin.
Anak didik, sambungnya, hanya menyerap pendidikan yang bersifat pragmatis. Mereka pintar fisika, matematika atau bahasa Inggris, tetapi belum tentu mengetahui ilmu bumi atau sejarah bangsanya. Isu jati diri bangsa ini akan diangkat dalam debat cawapres pada 23 Juni 2009 jam 19.00 di stasiun televisi SCTV.
Menurut Komaruddin, debat ini diprediksi akan berlangsung biasa, tidak ada sesuatu yang baru. "Tak ada perdebatan panjang dan hanya seremonial, karena sudah ada lobi antara KPU dan Tim Sukses tentang siapa yang bertanya, apa pertanyaannya. Sudah ada kisi-kisinya," tutur Komaruddin yang akan bertindak sebagai moderator dalam acara debat cawapres tersebut.
