Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 03:55 WIB
Pilih Boediono, SBY Ambil Risiko Besar
Caroline Damanik | Jumat, 22 Mei 2009 | 11:16 WIB
|
Share:

LIN
Pengamat ekonomi dari ECONIT Hendri Saparini (paling kiri) dan analis ekonomi Kwik Kian Gie (kanan) berbicara dalam diskusi bertajuk "JK-Win untuk Indonesia Adil dan Sejahtera: Ekonomi Kemandirian vs Ekonomi Neoliberal" di Jakarta, Jumat (22/5).

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Dengan memasang Boediono sebagai calon pendampingnya untuk maju dalam pemilu presiden mendatang, SBY dinilai sedang bertaruh besar dalam mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Hal tersebut terkait paradigma ekonomi neoliberalisme yang melekat pada diri mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini.

Hal ini disampaikan oleh pengamat ekonomi dari ECONIT Hendri Saparini dalam diskusi bertajuk "JK-Win untuk Indonesia Adil dan Sejahtera: Ekonomi Kemandirian vs Ekonomi Neoliberal" di Jakarta, Jumat (22/5).

"Dengan memilih Boediono, SBY sudah memberi taruhan tertinggi. Kalau sebelumnya neoliberal hanya diusung oleh tim ahlinya, sekarang dicantolkan lebih tinggi lagi. Capresnya pun sudah mengusung," tutur Hendri.

Menurut Hendri, ekonomi neoliberal mengancam cita-cita keadilan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia dan dengan mengusung Boediono sebagai cawapresnya, SBY bertentangan dengan keinginan rakyat.

Hendri menilai pemerintahan SBY selama ini masih kental dengan praktik-praktik ekonomi neoliberalisme. Buktinya terletak dalam tiga titik yang menjadi pilar neoliberalisme, yaitu stabilitas makro dengan anggaran yang sustainable, liberalisasi di sektor keuangan, perindustrian dan perdagangan, serta agenda privatisasi.