JAKARTA, KOMPAS.com — Calon presiden yang diusung koalisi yang dipimpin Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan akan menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh persen jika dirinya terpilih kembali.
Angka ini sebenarnya tergolong konservatif dibandingkan dengan angka yang digaungkan para rivalnya pada saat kampanye Pemilu Legislatif kemarin, yang mencapai dua digit. Namun, SBY mengaku memiliki pertimbangan tersendiri.
"Dunia masih tetap dalam keadaan resesi dalam dua tahun ini. Diperkirakan, kita akan tetap bergult pada perbaikan ekonomi," ujarnya pada saat diskusi calon presiden yang diselenggarakan Kamar Dagang Indonesia, Rabu (20/5) di Djakarta Theatre, Jakarta.
Kedua, lanjut SBY, dirinya tidak akan mengalokasikan seluruh sumber daya APBN untuk menggenjot pertumbuhan saja. "Masih ada komponen social safety net," ujarnya.
Pertumbuhan yang hendak dicapainya juga harus bersifat berkelanjutan dan inclusive. SBY optimis dapat mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan dengan modal yang diraihnya selama hampir lima tahun ini. "Pertumbuhan kuartal pertama saja 4,4 persen, sementara negara lain masih ada yang minus. Fundamental kita kuat," tandasnya.
Inflasi
Dalam paparan visi dan misinya, SBY juga menjanjikan inflasi di bawah enam persen pada akhir 2014 apabila ia terpilih lagi untuk berkuasa selama lima tahun mendatang.
Ia juga mengatakan, masalah pengangguran dan angka kemiskinan dapat diturunkan secara sistematis selama lima tahun ke depan karena selama lima tahun masa pemerintahannya sejak 2004, angka itu sudah berhasil diturunkan.
"Kita punya pengalaman lima tahun kemarin. Jika kita kelola, memilih kebijakan yang tepat, maka saya punya keyakinan tinggi, ekonomi kita lima tahun ke depan lebih baik dari yang sekarang," katanya.
Setelah sekitar 15 menit menyampaikan visi dan misinya di bidang ekonomi selama lima tahun ke depan, Yudhoyono, dalam acara temu capres yang dimulai pukul 10.00 itu, mendapatkan pertanyaan dari para hadirin yang terdiri dari pengusaha anggota Kadin.
Yudhoyono, yang tampil sendiri tanpa cawapresnya, Boediono, berdiri di atas panggung melingkar beralas karpet merah selama acara berdurasi satu jam itu.

