KOMPAS.com — Buat penggila makan an, kawasan Pancoran adalah salah satu kawasan surga makan an yang wajib dijelajahi. Bukan hanya makan annya yang punya cerita, tapi kawasan itu sendiri juga luber dengan kisah nan panjang. Plus, makan an yang dijual di wilayah Pancoran, Jakarta Barat, ini memang patut dicicipi.
Degup kehidupan di sini sudah dimulai sejak pagi, saat sarapan. Maka itu, kalau punya rencana mengeksplorasi makan an di kawasan ini, mulailah sejak saat sarapan. Buat sebagian orang, mendengar nama Petak Sembilan mungkin sudah bikin "puyeng", tapi buat sebagian lainnya, Petak Sembilan bagaikan album kenangan.
Kenapa "puyeng"? Karena membayangkan gang-gang kumuh dan becek, juga karena bayangan makan an di Pecinan yang serba non-halal. Padahal, gang-gang itu punya banyak cerita dan makan an yang dijajakan juga tak melulu non-halal.
Di gang yang dulu bernama Petaksembilan (sekarang Jalan Kemenangan I), tak jauh dari Jalan Kemurnian I, Anda sudah bisa menghirup bau sedap berbagai makan an khususnya ayam panggang. Selain itu, ada penganan jajan pasar lain seperti bolu, bika ambon, semar mendem, getuk, dan aneka bubur manis. Mau memborong makan an kering kalengan juga tersedia di sepanjang gang ini.
Di salah satu kedai di gang ini, penggemar mipan juga bisa bernostalgia. Itu karena Lili dan Andy meneruskan kebiasaan menjual penganan yang dibikin dari tepung beras itu. Mipan, semacam bubur sumsum, terbuat dari tepung terigu (disiapkan dalam mangkuk kecil) yang kemudian disajikan dengan gula jawa cair yang dicampur dengan bawang putih.
”Makanan ini sudah ada sejak saya kecil. Dulu yang jual pikulan pakai piring aluminium ceper,” ujar Achiu (50), warga sekitar.
Selesai ”cuci mata” dan mengisi perut dengan cemilan tadi, Anda bisa terus melangkah ke pertokoan Gloria. Di belakang pasar ini, berjejal penjual makan an. Tinggal pilah pilih mana yang sesuai selera. Penggemar makan an berkuah, seperti soto tangkar, bisa langsung menuju ke gerobak Kang Agus atau yang tenar dengan soto tangkar Hauce di dekat Soto Betawi Afung. Jelas, dua makan an ini halal.
Seporsi soto tangkar dipatok seharga Rp 7.000. Agus, penjual soto tangkar asal Bogor ini, sudah siap melayani pengunjung sejak pukul 06.30 setiap hari. Rasa soto yang satu ini memang berbeda dari soto sejenis yang banyak dijual. Kuah santannya lebih kental. ”Kalau mau cari saya, tanya aja soto tangkar Hauce. Saya udah jualan di sekitar sini sejak tahun 80-an,” begitu kata Agus.
Jika perut sedang meronta, sulit untuk memilih makan an. Anda dikepung berbagai jenis makan an. Di sekitar soto tangkar saja, ada makan an lain seperti cakwe dan soto betawi. Bagi mereka yang memilih makan an non-halal, lebih banyak lagi pilihan, seperti sekba atau bektim. Sebelum sampai ke Soto Betawi Afung, Anda ”dihadang” pi oh tauco, nasi tim ayam, dan nasi campur di Tak Kie yang juga tenar dengan kopinya.
Afung, si pemilik soto betawi, berkisah, dia sudah menjual menu ini sejak tahun 1982. Perempuan ini juga menjual berbagai pernik hiasan untuk perayaan Imlek, meski hari itu masih cukup jauh. Soal rasa, soto betawi di sini layak dicoba. Kuah santannya begitu gurih ditimpal potongan daging sapi nan tebal dengan harga tak lebih dari Rp 20.000 seporsi.
”Kalau kamu makan pagi di sini, jam 06.30 bisa-bisa ketemu Ciputra. Dulu juga Lim Soe Liong sering sarapan di sekitar sini. Mereka pake topi, celana pendek, enggak ada yang kenalin dah,” begitu kata Afung seperti ditirukan rekan seperjalanan Warta Kota.
Pilihan tak berhenti sampai di situ. Gado-gado direksi, mi kangkung si jangkung siap memuaskan selera. Bumbu kacang gado-gado direksi yang sudah sekitar 40 tahun eksis di kawasan ini terasa begitu lembut. Bumbu inilah yang jadi kekuatan gado-gado yang dibanderol sekitar Rp 15.000 ini.
Lumpia isi tahu kuning, bengkoang, dan taoge yang dicocol samble kacang juga jadi andalan di tempat ini, sebagai cemilan tentunya. Di seberangnya, mi kangkung si jangkung siap pula disantap. Tentu saja, makan an di atas cuma sedikit dari sekian banyak pilihan. Intinya, menjelajah lokasi ini tentu saja tak cukup waktu sehari. Siap ”berpetualang”? (pra)

