Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 03:45 WIB
Wayang Ajen Memukau Publik Spanyol
| Jumat, 8 Mei 2009 | 02:20 WIB
|
Share:

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Jajang (41) melestarikan budaya dengan membuat wayang golek di sentra industri kerajinan Cupumanik, Jalan Haji Akbar, Kota Bandung, Senin (14/7). Wayang berbahan dasar kayu albasia dan lame ini dijual Rp 350.000- Rp 500.000 per buah.

BANDUNG, KOMPAS.com--Penampilan wayang ajen pada Festival de Titeres de Canarias 2009 di Spanyol, 23 April-5 Mei, mendapatkan penghargaan untuk kategori penampilan terbaik. Kemampuan meramu pertunjukan tanpa kehilangan karakter dasar seni wayang tradisional dianggap sebagai terobosan mengesankan.

"Menurut Angel Brito, koordinator festival, wayang ajen dengan segala tampilannya mampu memuaskan penonton," kata Wawan Gunawan, pemimpin rombongan sekaligus dalang wayang ajen di Festival de Titeres de Canarias 2009, melalui surat elektronik, Rabu (6/5).

Dalam festival ini tim wayang ajen tampil di delapan kota, yaitu Los Realejos, Guia De Isora, El Sauzal, El Rosario, Santa Cruz de La Palma, Tenerife, Gran Canaria, dan Aguimes. Selain Wawan, anggota lainnya adalah M Tavip (dalang gambar motekar), Dodong Kodir (musik daur ulang), dan Pandu Radea (penata artistik).

Menurut Wawan, penghargaan itu membuktikan wayang ajen bisa menjadi salah satu karya besar dunia internasional. Wayang ajen dianggap mampu membawakan kesenian baru tanpa melepas identitas asli sebagai bagian dari wayang golek. Hal itu bisa dilihat dari idiom gerak, gambar, dan musik yang digarap secara artistik. Bahasa Inggris dan Spanyol yang dibawakan dalam setiap pertunjukan juga bisa memudahkan penonton menikmati pertunjukan wayang ajen berlakon Rama dan Sinta ini.

"Terutama saat adegan goro-goro yang menampilkan kolaborasi Si Cepot dengan wayang matador, atau ketika Si Cepot mengaku sebagai Lionel Messi dan Raul Gonzales, pemain sepak bola klub terkenal Spanyol, Barcelona FC dan Real Madrid," katanya.

Kemampuan personel lain juga mampu membangun penampilan wayang ajen semakin hidup. Kemampuan Dodong Kodir mengeksplorasi sampah menjadi alat musik dengan efek-efek bunyi aneh membuat penonton terperangah, contohnya ketika mendengar suara halilintar, angin, dan ombak.

Hal yang sama dilakukan M Tavip. Gambar motekar yang dibawakannya berhasil mengejawantahkan wayang ajen dalam bahasa gambar. (CHE)

Sumber :
Kompas Cetak