Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 01:09 WIB
Inggris Akhiri Operasi Militer di Irak
Tri Mulyono | Jumat, 1 Mei 2009 | 08:47 WIB
|
Share:

BASRA,KOMPAS.com-Pasukan Inggris secara resmi mengakhiri operasi-operasi tempur di Irak, Kamis (30/4).

Keputusan untuk mengakhiri operasi militer dibuat ketika Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dan sejawat Iraknya Nurti al Maliki bertemu di London.

"Hari ini meruapkan bab penutup misi tempur di Irak," kata Brown. "Bendera dari 20 Brigade Lapis Baja akan diturunkan sementara patroli-patroli tempur di Basra akan diakhiri dan pasukan kami siap mundur."

Jumlah pasukan Inggris adalah terbesar kedua dalam operasi di Irak, yang mencapai puncak 46.000 personil dalam operasi tempur yang berhasil menggulingkan Presiden Irak Saddam Hussein. Penarikan resmi pasukan itu dilakukan 31 Maret ketika lambang markas besar Inggris di Basra diturunkan dan pangkalan itu diserahkan kepada kekuasaan AS. Acara di Basra, Kamis, dihadiri Menteri Pertahanan Inggris John Hutton.

Nama dari 179 tentara serta 55 personil pasukan multinasional yang tewas dalam operasi-operasi yang dipimpin Inggris di daerah Basra dibacakan pada acara tersebut. Mayjen Andyu Salmon, perwira senior Inggris di Basra menyerahkan pangkalan selatan itu kepada seorang komandan AS dalam satu acara serupa bulan lalu, dalam satu langkah penting menuju penarikan semua pasukan asing dari negara itu.

Satu perjanjian yang ditandatangani Baghdad dan London tahun lalu menyetujui bahwa 4.500 tentara Inggris yang terakhir akan menyelesaikan misi resmi mereka -- Juni , sebelum penarikan penuh dari negara itu pada Juli.

Inggris, yang berada dibawah PM (waktu itu) Tony Blair, adalah sekutu penting Presiden AS George W Bush yang memerintahkan invasi ke Irak untuk menggulingkan Saddam.

Basra, kota terbesar ketiga Irak dan sebuah pusat minyak strategis, berada di bawah komando Inggris sejak invasi tahun 2003 tetapi provinsi itu dan bandaranya diserahkan kepada kekuasaan Irak empat bulan lalu.

Menlu AS Hillary Clinton dalam satu kunjungan ke Baghdad, Sabtu, berikrar bahwa gelombang aksi kekerasan yang terjadi di Irak tidak akan mengganggu perjalanan negara itu untuk kembali pada perdamaian dan kemakmuran.

Sumber :
Ant