WASHINGTON, KOMPAS.com — Perekonomian AS, yang tengah menunjukkan sinyal pemulihan yang tak menentu, kini harus menghadapi ancaman baru, yaitu flu babi. Penyebaran penjangkitan flu babi bisa memukul industri pariwisata, makan an dan transportasi, dan membuat resesi AS semakin mendalam; dan sangat mungkin menyebar ke seluruh dunia.
Dengan perekonomian AS maupun global yang telah rapuh, bergulirnya kasus ini bisa menggerus kemajuan yang telah dicapai selama ini.
European Union atau Uni Eropa menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan ke AS maupun Meksiko. Selain itu, kekhawatiran investor Wall Street akan menipiskan saham-saham penerbangan, hotel, cruise, dan sejumlah perusahaan juga takut bahwa flu akan mengerutkan permintaan konsumen.
Namun, setidaknya ada tiga maskapai utama yang menegaskan bahwa penerbangan mereka berjalan normal dan tidak membatalkan penerbangan mereka ke Meksiko.
Brian Bethune, Economist IHS Global Insight, mengatakan, "Anda bisa berargumen bahwa flu babi memperkuat risiko penurunan bagi perekonomian."
Perekonomian AS bisa tersurung mumbul lebih dari yang diprediksi. Namun, sebagian besar ahli tidak memikirkan penjangkitan flu babi itu sendiri bisa meminggirkan banyak pekerja AS atau memperburuk perekonomian.
Simon Johnson, Former Chief Economist International Monetary Fund sekaligus profesor Massachusetts Institute of Technologys Sloan School of Management, memprediksikan bahwa flu babi ini tak akan terlalu menghantam aktivitas perekonomian AS; hanya sepersepuluh dari 1 persen saja.
Mark Zandi, Chief Economist Moody Economy.com, mengatakan, "Kepercayaan konsumen telah robek dan sesuatu seperti itu akan semakin mendorong konsumen cemas."
Sherry Cooper, Chief Economist BMO Capital Markets & BMO Nesbitt Burns, juga menegaskan, hal yang paling akhir yang kita butuhkan adalah sejumlah alasan tambahan untuk memangkas pengeluaran, mengurangi perjalanan dan mengenalkan pembatasan perdagangan.
China, Taiwan, dan Rusia memilih untuk mengarantina. Dan sejumlah negara-negara Asia juga meneliti pengunjung yang datang di bandara. Presiden Barack Obama mengatakan, ancaman penyebaran flu babi ini harusnya membuat semua pihak peduli, bukan menjadikannya sebagai sebuah alarm.
Nyatanya, investor melego semua saham yang berkaitan dengan perusahaan perjalanan dan industri makan an di tengah ketakutan flu babi akan semakin mengerutkan permintaan. (Femi Adi Soempeno/Kontan)

