Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 03:35 WIB
Kesatriakah Seorang Jusuf Kalla?
Hindra | Selasa, 14 April 2009 | 15:02 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Saat ini jiwa kesatria seorang Ketua Umum Partai Golkar M Jusuf Kalla tengah diuji. Berembus kabar, Jusuf Kalla yang juga Wakil Presiden RI itu tengah bermanuver untuk merapat kembali ke kubu Partai Demokrat setelah perkiraan perolehan suara partai berlambang pohon beringin pada Pemilu Legislatif 2009 melorot hingga kisaran 14-15 persen. Dengan demikian, takhta "juara umum" pada Pemilu 2004 pun terancam melayang.

Kemarin, misalnya, politisi asal Sulawesi Selatan yang lama malang melintang sebagai pengusaha itu mengunjungi calon presiden Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, sekitar pukul 22.00.

Meski belum jelas substansi pertemuan kedua pemimpin nasional tersebut, diduga berkaitan erat dengan koalisi pada pertarungan Pilpres 2009. Padahal, sebelumnya saudagar Bugis itu telah menyatakan secara blak-blakan akan maju ke arena pilpres sebagai calon presiden.

Bahkan, beberapa waktu lalu, JK juga pernah bertandang ke rumah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Megawati Soekarnoputri, yang akan menjadi rival Presiden SBY pada pilpres tahun ini.

Langkah-langkah terakhir JK itu kemudian mengundang tanya. "Kalau dia seorang kesatria dan seorang Bugis, (seharusnya) dia tidak maju menjadi cawapres SBY," kata peneliti senior dari LIPI Ikrar Nusa Bakti.

Menurut dia, JK bahkan seharusnya mundur dari posisi Ketua Umum Golkar karena telah gagal mempertahankan gelar partai beringin sebagai kampiun seperti pada Pemilu 2004.

Mungkinkah SBY melirik JK sebagai kandidat cawapres? Menurut Ikrar, saat ini SBY masih menunggu rapat pimpinan nasional Partai Golkar yang akan diselenggarakan akhir bulan ini. Pasalnya, pada rapimnas tersebut turut dibahas tentang kepemimpinan di tubuh partai bernomor urut 23 tersebut.

Jika JK tidak mendapatkan dukungan dari mayoritas kader partai, tentunya sulit bagi SBY untuk melirik JK sebagai cawapresnya. Terlebih, masa kepemimpinan mantan kepala Badan Urusan Logistik di Golkar itu segera berakhir pada bulan Desember 2009.

Ditambahkan Ikrar, mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung dapat berpeluang menjadi cawapres mendampingi capres SBY. Politisi kawakan tersebut dinilai masih memiliki reputasi di Golkar karena berhasil membawa partai tersebut menjadi pemenang pada Pemilu 2004. Pasalnya, bagaimana pun juga SBY tetap membutuhkan Partai Golkar.

Jika SBY kembali terpilih menjadi presiden, dirinya tentu membutuhkan dukungan yang kuat di parlemen agar pemerintah tidak mudah diombang-ambingkan. "Partai Golkar adalah satu-satunya partai nasional besar yang berpeluang berkoalisi dengan Partai Demokrat di parlemen," tandasnya.