Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 03:30 WIB
Wiranto Orasi, Pintu Keluar Ditutup
Hindra | Minggu, 5 April 2009 | 12:56 WIB
|
Share:

HINDRA LIU
Panitia menutup pintu keluar tribune bawah. Akibatnya, massa yang berada di lapangan tidak dapat keluar selama Ketua Umum DPP Partai Hanura Jenderal TNI (Purn) Wiranto menyampaikan orasi politiknya.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Ada-ada saja cara partai politik dalam menahan para kader dan simpatisan agar tetap berada di lokasi kampanye dan mendengarkan orasi ketua umumnya.

Pada kampanye terbuka putaran terakhir Partai Hati Nurani Rakyat, Minggu (5/4) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, panitia menutup pintu keluar tribune bawah. Akibatnya, massa yang berada di lapangan tidak dapat keluar selama Ketua Umum DPP Partai Hanura Jenderal TNI (Purn) Wiranto menyampaikan orasi politiknya.

Andy, salah satu simpatisan partai bernomor urut satu tersebut, mengatakan, pintu keluar ditutup beberapa saat setelah Wiranto menyampaikan orasinya tentang hati nurani. Salah satu petugas kepolisian pun membenarkan hal tersebut.

Simpatisan yang tetap bersikeras ingin keluar terpaksa memanjati pintu pagar warna hitam setinggi sekitar 4 meter tersebut. Begitu juga simpatisan yang berada di luar yang hendak masuk ke dalam. Beberapa anggota kepolisian yang berjaga-jaga di pintu tersebut berkali-kali meminta simpatisan agar tidak memanjat, tetapi tidak dihiraukan.

Akhirnya, selang beberapa saat setelah mantan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan tersebut berorasi, pintu kembali dibuka. Sesaat itu juga massa berhamburan untuk berebut keluar.

Dalam orasinya, Wiranto mengatakan, Indonesia masih dililit masalah utang, kemiskinan, pengangguran, kesehatan, dan lingkungan hidup. Masalah kompleks ini terus berlangsung karena pemimpin Indonesia tidak memiliki hati nurani sehingga tidak dapat merasakan penderitaan rakyat.

Wiranto pun meminta kader dan simpatisan untuk memilih pemimpin yang berhati nurani. "Di Hanura, kami telah melatih caleg-caleg untuk menggunakan hati nurani sehingga dapat menghasilkan kebijakan yang prorakyat," tuturnya.