JAKARTA, KOMPAS.com — Mimpi sering kali dianggap sebagai bunga tidur sehingga banyak orang yang sering menyepelekan mimpi yang ia alami. Namun, justru karena mimpi itulah, Hari Purwanto dapat luput dari bencana jebolnya tanggul Situ Gintung. Pria berusia 25 tahun ini menuturkan, sekitar 20 hari sebelum kejadian nahas tersebut, beberapa kali ia mengalami mimpi yang aneh.
"Pertama saya mimpi menyelam lautan lumpur. Lalu mimpi yang kedua adalah saya sedang berada di rumah, genting-gentingnya berjatuhan, banyak orang yang meninggal," terang Hari.
Beberapa hari sebelum kejadian, Hari kembali bermimpi. Kali ini dalam mimpinya tersebut, seseorang memberitahukan akan timbul kejadian yang memakan korban.
"Ada orang yang memberitahukan kalau waktu wage akan ada korban yang berjumlah lebih dari sepuluh," terang mahasiswa STIE Ahmad Dahlan jurusan Ekonomi Manajemen ini.
Dalam mimpinya tersebut, korban-korban dilemparkan ke dalam waduk. Namun, lama-kelamaan, waduk jebol. Setelah berulang kali mengalami mimpi aneh tersebut, Hari menanyakan kepada teman-teman dan kakak perempuannya. Sayang, tidak ada satupun yang menganggap serius mimpi Hari.
"Saya terus bertanya, apa arti mimpi-mimpi saya tersebut. Setiap selesai shalat, saya juga meminta jawaban dari-Nya," ujar Hari.
Pada hari nahas itu, entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja, Hari ingin sekali shalat subuh di Masjid At-Taqwa yang berada di kompleks kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta. Padahal, selama ini, ia melakukan shalat subuh di kosnya karena masjid tersebut jaraknya cukup jauh, sekitar satu kilometer lebih.
"Pagi itu, saya shalat subuh di Masjid At-Taqwa. Baru saja selesai salam, ada yang berteriak 'air'. Saya sempat bingung, ternyata tanggul Situ Gintung jebol, " terang warga asal Klaten ini.
Sesaat setelah kejadian tersebut, ia baru menyadari, kejadian tersebut adalah arti sesungguhnya dari mimpi-mimpinya selama ini. Hari juga menuturkan, sebelum gempa di Yogyakarta beberapa tahun lalu, ia juga sempat memimpikan akan ada gempa, tetapi ia tidak tahu kapan dan di mana gempa tersebut.
Hari menerangkan, banyak juga mimpinya yang telah menjadi kenyataan. "Banyak juga mimpi yang menjadi kenyataan. Namun, biasanya untuk saya sendiri," tuturnya.
Saat ini, Hari berada di posko pengungsian Fakultas Kedokteran UMJ karena kamar kos yang biasa ditempatinya rusak berat dan barang-barangnya ikut hanyut dalam kejadian nahas itu.

