Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 03:30 WIB
Parpol yang Lagi Tak Pede
Inggried Dwi Wedhaswary | Kamis, 2 April 2009 | 14:33 WIB
|
Share:

Inggried Dwi W
Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri

KOMPAS.com — Penjajakan, pendekatan, dan langkah komunikasi politik yang dilakukan sejumlah partai politik merupakan hal lazim menjelang pemilu. Manuver atau langkah membangun kekuatan tak menjadi soal. Lihat saja pimpinan partai politik melakukan road show dengan menyambangi partai politik lain. Hari ini bertemu si A, besok bertemu si B. Tak jelas mana yang akan dirangkul menjadi kawan dan mana yang dianggap sebagai lawan.

Bagi pengamat politik Universitas Indonesia, Boni Hargens, apa yang dilakukan partai politik saat ini justru menunjukkan bahwa mereka tengah dilanda sindrom krisis percaya diri. Partai politik ramai-ramai menjajaki koalisi sebelum pemilu.

"Fenomena syndrome tidak percaya diri tengah melanda semua partai politik. Dan syndrome ini cukup serius. Maka, terlihat parpol-parpol sibuk melakukan penjajakan sebelum pemilu legislatif," ujar Boni saat berbicara pada diskusi Menguji Kekuatan Koalisi Pra dan Pasca-Pemilu Legislatif di Gedung DPR, Kamis (2/4).

Partai Demokrat, menurutnya, yang paling dilanda krisis kepercayaan diri paling tinggi, terutama setelah adanya antipati dari sejumlah partai yang menjadi mitra di pemerintahan. Antipati karena klaim keberhasilan pemerintahan yang mengabaikan partai lain yang berada di jajaran kabinet.

Gagasan golden triangle dan golden bridge yang mulai disuarakan, kata Boni, menjadi bukti. Di antara kedua gagasan ini, berkaca pada hasil Pemilu 2004, golden triangle menurutnya paling berpeluang. Tiga partai yang berada pada gagasan ini adalah Golkar, PDI Perjuangan, dan PPP.

"Jika dikalkulasi hasil Pemilu 2004, perolehan ketiganya mencapai 48 persen. Sementara Demokrat dan beberapa partai menengah sekitar 26 persen," kata Boni.

Namun, golden triangle mempunyai kesulitan karena pengalaman masa lalu yang buruk. "Golkar (pada Pemilu 2004 ) pernah meninggalkan PDI-P di tengah jalan, sementara PPP tidak jelas arah politiknya dan dipertanyakan konsistensinya. Jadi, saat ini semuanya hanya manuver  karena mereka tidak percaya diri," ujar penulis buku 10 Dosa SBY-JK ini.