JAKARTA, KOMPAS.com — Derita akibat bencana jebolnya tanggul di Situ Gintung, Tangerang, masih terus berlanjut. Sudah hampir sepekan musibah yang merenggut ratusan nyawa itu terjadi dan masalah demi masalah masih terus tercipta. Anak-anak usia sekolah salah satunya.
Hingga kini mereka masih belum bisa kembali ke bangku sekolah. Annisa Maulidinov (12) misalnya. Siswi Madrasah Tsanawiyah 3, Pondok Pinang, semenjak hari pertama bencana, Jumat silam, hingga hari ini belum masuk sekolah. "Seragam saya belum ada, sepatu juga belum punya. Jadinya belum masuk sekolah lagi," kata Annisa.
Menurut Annisa, bantuan buku-buku cetak juga masih sangat minim, padahal ia sangat membutuhkannya karena Annisa sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian tengah semester. "Rencananya saya senin ingin masuk sekolah lagi untuk ikut mid (midtest. Namun, sampai sekarang belum belajar," ujarnya.
Hal serupa juga dialami oleh adik Annisa, Sandriane. Siswi kelas II SD 1 Situ Gintung ini juga belum bersekolah. Sandriane mengaku, ia belum bersekolah karena alat-alat sekolahnya belum lengkap. "Baru ada tas aja, sepatu juga belum dapat," ujarnya.
Melihat hal tersebut, Nurlela (31), ibu Annisa dan Sandriane, sangat mengkhawatirkan kelangsungan pendidikan kedua anaknya. "Sebelumnya Annisa sedang mempersiapkan diri untuk mid semester, tapi ada bencana ini. Sekarang konsentrasinya masih sudah buyar," terang Nurlela.
Derita yang sama pun dialami Rani, siswi kelas I SMK Grafika ini, rencananya baru akan masuk sekolah senin depan. "Belum ada sepatu, semalam kalau sudah minta ke posko Ahmad Dahlan, tapi kehabisan. Kalau seragamnya sudah ada, " terang Rani.
Di kawasan Situ Gintung, berdasarkan data yang dituturkan Ketua Posko Utama Ahmad Salam, anak usia sekolah tingkat taman kanak-kanak tercatat 10 orang, SD 71 orang, SMP 52 orang, SMU/SMK 29 orang.

