"Tek, lu bawa-bawa gitar mau djadi Elvis, ni?"
"Owe kepingin beladjar, ko Put On."
"Mari kita keblakang. Di sana sepi. Gua adjarin lu begimana kalu Elvis menjanji dan beraksi."
Atau
"Zeg, On. Je mangkin gemoek adja. Kagak baek toe."
"Abis misti begimana dong."
"Sport tjoba maen voetbal."
"Djadi voorhoede misti madjoe. Djangan moendoer adja. Hajo tjoba djadi half back."
GENERASI yang lahir setelah tahun 1965 bisa jadi tak mudah memahami dua petikan obrolan berbahasa campur aduk antara Tionghoa-Melayu dan sedikit Belanda seperti di atas. Meskipun kata sandinya sudah disebutkan, yakni Put On, tetap saja tidak gampang mengerti dua dialog tersebut.
Berbeda kalau yang dikutip adalah sepotong perbincangan antara Doyok dan Otoy, celoteh nakal Panji Koming-Pailul, serta kritik ala Benny dan Mice. Bisa jadi orang tak perlu mengernyitkan dahi untuk mengenali. Apalagi dengan penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan, potongan perbincangan Doyok dan Otoy, Panji Koming, serta kekocakan Benny dan Mice bisa cepat dikenali.
Komik setrip Doyok sangat dinanti pembaca harian Pos Kota di pertengahan tahun 1970-an hingga 1990-an. Bersamaan dengan itu, Panji Kompas Minggu (Koming) dan Pailul juga selalu dinanti. Bisa dibilang, kini posisi itu direbut komik setrip Benny dan Mice.
Kembali ke Put On. Petikan dialog di atas diambil dari komik Si Put On. Komik setrip itu karya Kho Wan Gie (1908-1983)—belakangan mengubah namanya menjadi Sopoiku—yang muncul tiap pekan di harian Sin Po mulai tahun 1930. Sin Po adalah surat kabar Tionghoa berbahasa Melayu yang terbit di Jakarta sejak tahun 1910 (diawali sebagai mingguan).
Surat kabar ini dulu berkantor di Jalan Asemka, Jakarta Barat. Saat Jepang masuk tahun 1942, koran ini dilarang terbit. Sin Po muncul lagi tahun 1946 dan pada 1962 mengubah nama menjadi Warta Bhakti untuk kembali diberangus selepas peristiwa 30 September 1965.
Sekali lagi, bisa jadi hanya segelintir orang yang tahu bahwa Si Put On adalah salah satu cerita bergambar atau komik pertama yang terbit di Indonesia dan dibikin oleh orang Indonesia.
Kho Wan Gie yang lahir pada tahun 1908 dan tutup usia di tahun 1983 adalah komikus Indonesia yang menciptakan komik humor dengan sosok Put On yang gendut, bujangan, sering apes, dan terkadang konyol. Put On bersahabat dengan A Liuk dan tinggal dengan ibu serta dua adiknya, Tong dan Peng. Komik humor ini menceritakan tentang masyarakat dan budaya peranakan Tionghoa dalam kesehariannya di Batavia-Jakarta.
Komik setrip tak hanya bicara persoalan hidup dalam keseharian, tetapi juga bicara persoalan politik, sosial, dan tentu saja budaya. Komik yang biasanya muncul setiap pekan ini bagaikan cermin keadaan masyarakat pada zamannya. Tengok saja persoalan yang biasa diangkat Doyok, Panji Koming dan Pailul, atau Benny dan Mice.
Dalam buku Jakarta-Batavia: Esai Sosio-Kultural, Myra Sidharta menyebut, sepanjang lebih dari 30 tahun, Put On menjadi panutan bagi para pembaca Sin Po, kebanyakan orang Tionghoa peranakan di Indonesia. Karena jangka waktunya sebegitu lama, kita bisa mengikuti perubahan yang terjadi pada peranakan Tionghoa di Indonesia, terutama yang tinggal di Jakarta, lewat komik Put On. Perubahan itu bersifat politis, selain sosial dan budaya.
Selama periode itu, Put On membantu mereka melihat perubahan yang menjengkelkan, atau bagi sebagian orang menakutkan, melalui sudut pandang berbeda, yaitu sudut pandang komik.
Put On tak lain adalah ejaan Hokkian dari Bu An atau Si Gelisah. Kho terinspirasi oleh karakter Jiggs pada komik Amerika, Bringing Up Father, demikian tulis Myra Sidharta. Wikipedia menyebut Bringing Up Father adalah karya George McManus yang terbit dari tahun 1913 hingga tahun 2000.
Dikumpulkan
Kho Wan Gie adalah seniman, yang tak hanya piawai melukis, tetapi juga pandai meniup saksofon dan bermain piano. Menurut salah satu putranya, Kho Goan Soey, sang ayah memang seniman. "Dia juga tergabung dalam perkumpulan seniman peranakan," ucapnya suatu siang kepada Warta Kota.
Sebagai seniman masa lalu dengan idealisme tinggi, tak aneh jika akhirnya tak ada seorang keturunannya yang ingin mengikuti jejak sang ayah. "Kita lihat kehidupan seniman zaman dulu. Kalau sekarang sepertinya gampang banget," kata Agoan, demikian dia biasa disapa, sambil tersenyum.
Itu juga akhirnya yang membuat keturunan Kho kesulitan mengumpulkan karya asli Kho, khususnya Put On. "Karena zaman dulu kan belum kepikiran simpen karya-karya aslinya. Kalau sekarang kan udah bisa di-file. Udah canggih. Sekarang kita sedang usaha kumpulin lagi. Ada yang sudah kita simpen tapi masih harus diurutin lagi. Itu juga masih banyak yang belum kita temukan," paparnya lagi.
Sayang memang, karena bagaimanapun Put On adalah bagian sejarah Batavia hingga menjadi Jakarta. Put On jadi mata kita yang melihat kehidupan politik, sosial, budaya peranakan Tionghoa di Jakarta dari masa Hindia Belanda hingga ke Peristiwa 30 September 1965.
Namun, bagi penggemar dunia maya, banyak "wajah" Put On yang masih bisa dinikmati. Adalah Hoedjin Tjamboek Berdoeri yang masih terus mencari dan mengumpulkan berbagai naskah tua, termasuk Put On, yang kemudian dimuat dalam blog-nya.
Dalam surat elektroniknya menjawab pertanyaan Warta Kota tentang siapa sesungguhnya Hoedjin Tjamboek Berdoeri, dengan bahasa Tionghoa Melayu yang selalu digunakan untuk berkomunikasi di dalam blog-nya, dia menyatakan, "Saja hanja satoe peranakan Tionghoa semata jang hanja koempoel-koempoel tjerita-tjerita kaoem peranakan jang tertjetjer-tjetjer laen tida." Semoga di lain waktu kumpulan Put On itu bisa disatukan dan dibukukan, menjadi referensi yang tak perlu dibaca dengan kening berkerut. *

