JAKARTA, KOMPAS.com — Pertemuan antara Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri dinilai pakar Komunikasi Politik UI Effendi Gazali sebagai gaya JK menantang SBY. Seperti diketahui, pernyataan JK siap menjadi capres menyebabkan rivalitas yang semakin kental di antara kedua pemimpin negara itu.
"Kalau bertemu PKS itu biasa. Demokrat juga bisa ketemu PKS. Yang paling menantang memang hari ini, ketemu Megawati. Dari gaya komunikasi politiknya, JK seakan-akan berkata 'Kami bisa lho bertemu Mega, situ bisa enggak?'," ungkap Effendi di Gedung DPR, Kamis (12/3).
Manuver Golkar dengan melakukan pertemuan berbagai parpol juga dipandangnya sebagai langkah "melawan" Demokrat yang telah meninggalkan lebih dulu. Pertemuan Mega-JK pun diyakininya tidak akan membuahkan hasil apa-apa, kecuali hanya menunjukkan gaya dan dinamika politik.
"Saya yakin belum ada hasilnya. Ini baru style dan dinamika komunikasi. Dalam konteks yang satu ditinggalkan, lalu memberikan perlawanan seperti ini," ujarnya.
Namun, pertemuan kedua tokoh ini akan menggerakkan mesin partai bekerja memenangi pertarungan pada pemilu legislatif 9 April mendatang, apalagi survei selama ini selalu menempatkan Golkar dan PDI Perjuangan pada posisi di bawah Demokrat.
"Pasti akan membesarkan harapan para kader kedua partai. Kalau Golkar menang, atau PDI-P menang, koalisi mereka tidak akan ada yang bisa menandingi," kata Effendi.

