Selasa, 29 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 29 Mei 2012 | 05:06 WIB
Jangan Paksa Kami Pilih Anda!
Inggried Dwi Wedhaswary | Selasa, 10 Maret 2009 | 10:01 WIB
|
Share:

Kompas/Ayu Sulistyowati
Memasuki tahapan Pemilu 2009, partai-partai politik mulai berlomba-lomba memasang atribut mereka. Bendera menjadi salah satu media kampanye yang efektif dan tengah marak dibandingkan dengan poster atau stiker. Ukuran panjang dan lebar bendera bisa mencapai lebih dari 1,5 meter. Pemasangannya pun tidak hanya di jalan besar tetapi juga di perkampungan-perkampungan.

TERKAIT:

Cobalah telusuri beberapa wilayah di Ibu Kota. Kita akan menjumpai kesibukan perbaikan fisik di beberapa titik. Entah itu jalan akses masuk yang diperbaiki atau pengecatan sejumlah fasilitas umum. Ada apa ya? Aktivitas perbaikan itu ternyata tak bisa dilepaskan dengan perhelatan pesta demokrasi yang akan berlangsung sebulan lagi.

Praktik seperti ini bukan hanya terjadi pada pemilu tahun ini saja. Sudah bertahun-tahun. Entahlah, apakah dapat dikategorikan sebagai bentuk politik uang atau tidak. Bagaimana tanggapan warga tentang 'budi baik' partai politik atau caleg yang berlaga? Tergodakah untuk memberikan suara pada mereka?

"Kalau mau kasih uang, bangun jalan, silakan saja. Kami senang. Tapi, ya jangan paksa untuk milih lah," kata Purwanto, seorang warga Petamburan, Jakarta Pusat, saat ditemui Kompas.com, Sabtu (7/3).

Namun, ia mengaku tak ada perbaikan apa pun di wilayah tempat tinggalnya. Hanya saja, beberapa caleg pernah datang berdialog dengan warga dan menjanjikan akan melakukan sejumlah perbaikan. Purwanto mengaku tak tahu bahwa apa yang dilakukan para politisi itu merupakan bentuk 'suap' secara halus agar dipilih warga.

"Ya biar saja. Kalau pas nyoblos, dia juga enggak tahu kita pilih siapa, ha-ha-ha," ujarnya.

Warga Pulo Cempaka, Grogol Selatan, Jakarta, beberapa pekan lalu melakukan perbaikan sejumlah jalan di beberapa gang di kawasan itu. Perbaikan dilakukan dengan bermodal sumbangan seorang caleg dari sebuah partai baru.

"Sebelum diperbaiki orangnya datang, kenalan sama warga. Dibilangin, mau jadi anggota DPR gitu. Terus tanya, warga perlu perbaikan apa," terang warga setempat, Erna.

Erna mengatakan, masa-masa pemilu memang menjanjikan harapan. Meski ia tak tahu, apakah budi baik para politisi akan tetap sama pascapemilu usai. "Ya semoga aja, enggak cuma pas mau pemilu gini pada baik ya. Yang dulu-dulu juga modelnya begitu," kata dia.

Tergoda untuk memilih sang caleg atau partainya? "Ah enggak juga. Saya mah dari jaman dulu pilihannya tetap sama (menyebut nama partai). Kalau sekarang, orang ngasih apa ya terima saja ha-ha-ha," ujar ibu dua anak ini sambil tertawa lepas.

Jangan kira mereka bisa 'diarahkan' karena mereka sudah punya pilihan!

Advertorial
»