JAKARTA, JUMAT - Pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang secara implisit menyatakan akan maju mencalonkan diri sebagai calon presiden dalam pemilihan umum presiden-wakil presiden mendatang, diyakini merupakan teknik untuk membeli waktu (buying time) dalam menghadapi berbagai tekanan yang kuat dan berasal dari dalam Partai Golkar.
Penilaian tersebut disampaikan peneliti senior Centre for Strategic and International Studies, J Kristiadi, Jumat (20/2). Menurutnya, Kalla tidak mau bertentangan secara frontal dengan sejumlah aspirasi yang muncul di internal Partai Golkar terutama dari sejumlah pengurus daerah.
"Dengan memberikan jawaban mengambang seperti itu dia bermaksud agar tidak terjadi konsolidasi di dalam (Partai golkar) menjadi hancur-hancuran dan merusak partai sendiri. Pernyataan mengambang itu hanya untuk buying time," ujar Kristiadi.
Kristiadi menambahkan, walau bagaimana pun Kalla menyadari duet antara dirinya dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, baik saat ini maupun di masa mendatang, masih menjadi duet yang tidak terkalahkan. Persoalan yang muncul belakangan ini pastinya disadari terjadi lantaran ada banyak kepentingan bermain, baik di Partai Golkar maupun Partai Demokrat.
Berbagai kepentingan tersebut menurut Kristiadi akan terus berupaya memecah duet Yudhoyono-Kalla tadi, yang dalam berbagai jajak pendapat dan survei selalu diunggulkan. Lebih lanjut, upaya membeli waktu itu akan terus berlanjut, setidaknya sampai hasil pemilu legislatif keluar.
Sementara itu saat dihubungi terpisah, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti menilai secara faktual pasangan Yudhoyono-Kalla memang memiliki kans yang masih jauh lebih baik jika dibandingkan dengan ketika masing-masing memisahkan diri dan mencari pasangan lain.
Ikrar mengaku melihat kemungkinan besar akan muncul tiga nama untuk dipasangkan dengan Yudhoyono jika duet Yudhoyono-Kalla pecah. Ketiga nama itu seperti Hidayat Nur Wahid, Meutia Hatta, atau Sri Mulyani, seperti sempat mencuat wacananya dalam beberapa kesempatan lalu.
Akan tetapi tambah Ikrar, setiap nama tadi masih sangat problematis bagi Yudhoyono terutama jika hal itu dikaitkan dengan posisi Partai Golkar, yang diperkirakan masih memiliki kekuatan dalam legislatif mendatang.
Yudhoyono menurut Ikrar harus selalu berhitung, tidak hanya soal bagaimana memenangkan pemilu melainkan juga bagaimana agar bisa melanggengkan jalannya pemerintahan jika dia terpilih nanti.
"Figur Hidayat dengan PKS-nya belum tentu bisa berdampingan (dengan Partai Golkar) karena ibarat jauh panggang dari api. Sedangkan nama Meutia Hatta juga sulit karena dia berasal dari parpol kecil, apalagi Sri Mulyani, yang malah bukan berasal dari parpol. Lagipula apakah Golkar nanti mau mendukung pemerintahan yang wakil presiden bukan dari mereka?" ujar Ikrar.
Sayangnya, tambah Ikrar, hingga sekarang dan bahkan ketika Yudhoyono beberapa waktu lalu mengklarifikasi pernyataan anak buahnya di Partai Demokrat, yang dianggap menghina Partai Golkar, dia sekadar mengatakan partai berlambang pohon beringin itu sebagai mitra yang baik.
Nama Jusuf Kalla tidak disebut spesifik pada kesempatan itu. Sikap seperti itu lah yang kemudian banyak diterjemahkan sebagai kesan keengganan Yudhoyono dipasangkan dengan Kalla dalam pemilihan umum presiden mendatang.
"Akan tetapi kalau keduanya ingin terus lanjut (berduet) maju dalam pemilu presiden mendatang, harus ada inisiatif untuk menyatakan secara resmi keinginan itu paling tidak dari Yudhoyono atau lebih baik lagi dari keduanya. Kalau hal itu tidak diucapkan, bukan tidak mungkin Golkar pilih kemungkinan lain," ujar Ikrar.

