Kamis, 2 Oktober 2014

News / Waroengan

Sate Khas Senayan Tidak Sekadar Jualan Sate

Sabtu, 14 Februari 2009 | 10:05 WIB

Jakarta Selatan, 1974. Di salah satu sudut kota baru, Kebayoran Baru, muncul satu restoran yang di kemudian hari menjadi salah satu tempat makan legendaris dan menggurita. Kebayoran Baru muncul sebagai sebuah kawasan kelas menengah pada sekitar tahun 1950-an. Jauh sebelum itu, kawasan ini masih menjadi hutan jati jenis Pterospermus javanicum (jati bayur). Tanaman tersebut akhirnya menjadi nama kawasan, yang semula direncanakan akan seperti kota taman Menteng ini. Bayur, Kebayuran hingga akhirnya menjadi Kebayoran.

Jalan Pakubuwono menjadi awal dari sebuah perjalanan restoran tradisional Indonesia. Adalah Budi Purnomo Hadisurjo si penggagas resto ini. Konsepnya membawa makanan tradisional yang galib ditemui di pinggir jalan masuk ke dalam satu atap. Dan pedagang sate adalah yang jamak ditemui di jalanan, kala itu.

Ide menyatukan semua jenis sate pun terwujud dalam Satay House Senayan. Di sini, sate ayam, kambing, dan sapi bersatu. ”Khasnya memang sate, Rumah Sate. Tapi sejak awal yang ditawarkan enggak hanya sate. Makanan tradisional lain juga ada,” kata Vincentius Krisnata Rivaliandy, dari bagian operasi dan marketing rumah makan ini.

Meski sudah melekat dengan nama Satay House Senayan, pemilik kemudian merasa harus mengubah nama resto itu menjadi lebih Indonesia, Sate Khas Senayan (SKS), pada 1982. Bersamaan dengan pergantian nama tadi, resto yang mulai kewalahan menerima pengunjung ini harus menambah tiga gerai di kawasan berbeda, yaitu Kebon Sirih (seberang Gedung DPRD DKI), Menteng (Jalan HOS Cokroaminoto), dan Tanah Abang (Jalan Tanah Abang II, Cideng).  

Sate ayam, kambing, dan sapi yang tersedia di sini punya cita rasa berbeda dari semua sate yang ada. Selain daging sate yang empuk dan sudah berbumbu sehingga bisa dimakan begitu saja, bumbu kacangnya juga unik. Bumbu kacang untuk sate ini begitu kental dan lembut. Bumbu kacang ini pun bisa dicocol untuk teman makan krupuk atau dimakan begitu saja.

Selain tiga jenis sate tadi, SKS juga punya sate sampler, yaitu sate campuran ayam, kambing, sapi, dan kulit ayam. Untuk jenis sate tersebut harga per porsi bervariasi mulai Rp 30.000 hingga Rp 34.000.

Menu unggulan lain, selain sate, yang sudah 34 tahun lalu tersedia, antara lain adalah tahu telur, lontong cap go meh, nasi langgi, gule tongseng, sop buntut, dan gurame goreng. Semangkuk besar tahu telur, Rp 16.000, berisi tahu bercampur telur yang ditutup sayuran seperti taoge dan kol kemudian bertaburan kacang goreng serta kacang goreng tumbuk. Belum selesai karena semua itu kemudian diguyur dengan kuah hitam pekat. Rasanya manis bercampur gurih.

Penyuka kambing juga bisa mencoba tongseng. Kuah tongseng yang kental, bercampur daging kambing empuk, jadi santapan yang menambah selera. Selain itu SKS sedang mengadakan pengenalan menu baru, nasi pepes dan nasi bebek. Keduanya seharga Rp 34.000. Untuk nasi bebek isinya sepiring besar nasi beserta urap, bebek dengan kremesan lengkuas yang bagaikan abon, peyek dengan sambal bawang. Tidak bisa dipungkiri sambal bawang yang menyengat membantu semua rasa di piring tadi.

Buat yang tak doyan bebek, pilih saja nasi pepes. Ayam kremes, tahu dan tempe goreng plus sambal sambal tempe. Yang unik adalah nasinya dipepes bersama ikan teri, potongan ikan asin gabus, cabai, serta bumbu-bumbu. Rasanya? Bayangkan ikan pepes, tetapi ini nasi beserta cuilan ikan. Satu bungkus nasi bisa jadi tak cukup.

Untuk minuman, coba saja es teh manis SKS. Ini jenis teh beraroma jasmine, cukup kental, yang membuat Anda kembali ke masa lalu. “Teh ini memang teh yang sejak pertama kali resto ini buka sudah kami hidangkan,” jelas Vincent. Jus durian juga tak pernah absen di sini. ”Kami usahakan selalu ada persediaan buah musiman seperti mangga dan durian. Untuk durian, kami pakai Monthong,” tambahnya.

Es cendol duren dan es merah delima bisa dicoba. Lelehan duren di atas cendol atau merah delima yang menggoda karena warnanya, silakan pilih. Yang pasti keduanya bisa jadi minuman penutup yang pas.

Jimmy Carter Mampir

Sate Khas Senayan (SKS) kini sudah memiliki 18 cabang di antero Jakarta dan Tangerang. Konsepnya tak semua full dining. Kebanyakan express dining dan kemudian berkembang pula yang full express karena letaknya di mal. ”Untuk full dining, Pakubuwono masih yang terbesar, bisa menampung 400-an pengunjung,” ucap Vincentius Krisnata Rivaliandy, dari bagian operasi dan marketing.

Tahun ini, SKS menambah dua gerai di  kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Satu gerai SKS dengan konsep full dining terletak di Inkopal Kelapa Gading, sedangkan gerai di Mal Kelapa Gading (MKG) 3 bercorak express yang berlokasi di food court.

”SKS sudah mulai diperkenalkan ke generasi muda makanya masuk ke mal, apalagi sekarang tren orang kan sedang kembali ke menu tradisional,” imbuh Vincent, begitu dia biasa disapa.

Sepuluh tahun bekerja di sini, jebolan jurusan food and beverage dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pariwisata Dhyanapura Bali ini setiap hari menjadi salah satu pencicip cita rasa masakan. Dia juga terlibat dalam urusan masak, presentasi makanan, serta pengembangan menu. ”Ya enggak semua SKS saya cicipi. Biasanya sehari tiga tempat yang dekat-dekat. Sebab rasa di sini kan dipertahankan dari dulu. Jadi harus pas,” tandas Vincent.

Di sepanjang 10 tahun itu, pengalaman menarik adalah ketika mantan Presiden AS Jimmy Carter mampir ke kedai SKS di Kebon Sirih. ”Dia cari makanan yang tradisional dan pilih SKS. Waktu itu pas saya sedang di SKS Kebon Sirih,” kata pria bertinggi badan 188 cm ini. Kehebohan lain adalah tatkala mantan Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR RI mantu tak lama berselang. ”Beliau pesan 2.000 lontong cap go meh,” lanjut putra kedua dari empat bersaudara ini. *


Editor :
Sumber: