Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 16:19 WIB
SBY: Mubarok di Luar Kendali
| Rabu, 11 Februari 2009 | 09:11 WIB
|
Share:

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
SBY-JK

Jakarta, Kompas - Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan, pernyataan Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Achmad Mubarok tentang Partai Golongan Karya di luar kendali yang bisa dilakukannya.

Yudhoyono terperanjat dan telah menegur langsung Mubarok, salah satu konseptor berdirinya PD itu. ”Saya terus terang terperanjat dengan pernyataan ini. Di luar dugaan saya. Kalau ada yang menganggap ini strategi, bisa saja pikiran-pikiran buruk itu muncul dan menjadi spekulasi politik. Namun, di hadapan Allah SWT, yang saya sampaikan benar adanya. Bukan tipe saya mengorbankan orang,” ujar Yudhoyono dalam pernyataan resmi di kediamannya di Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/2).

Pernyataan resmi dibuat untuk menanggapi polemik yang berkembang setelah Mubarok membuat pernyataan yang menyinggung perasaan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla. Disebutkan bahwa Demokrat belum menentukan calon wapres bagi Yudhoyono mengingat Partai Golkar diperkirakan akan meraih suara 2,5 persen saja.

Yudhoyono memahami perasaan tidak enak Kalla saat mendengar pernyataan tersebut. ”Tidak pernah terpikir untuk melecehkan Partai Golkar. Tidak ada niat dan pikiran sama sekali. Golkar adalah sahabat dekat Demokrat. Hubungan keluarga besar Golkar dan Demokrat berjalan baik. Demokrat menghormati Golkar sebagai partai senior yang tumbuh berkembang sejak Orde Baru,” ujarnya.

Yudhoyono segera ingin menyelesaikan dan menjelaskan langsung hal itu kepada Kalla. Seandainya Kalla ada di Tanah Air, Yudhoyono sudah pasti akan menemuinya.

Sementara itu, terkait Mubarok, menurut Yudhoyono, apa yang dikemukakan Mubarok dianggap sebagai keseleo lidah dan ungkapan ketidaksadaran.

Secara terpisah, Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengaku geram dengan pernyataan soal 2,5 persen. ”Pernyataan itu keterlaluan untuk ukuran partai yang bersahabat dan Golkar merasa terganggu,” katanya.

Dengan kasus ini, menurut Priyo, rencana Golkar untuk menduetkan kembali Jusuf Kalla dengan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi di ujung tanduk. ”Kemungkinan Golkar akan memimpin koalisi alternatif dan menduetkan Jusuf Kalla dengan Sutiyoso,” ujarnya.

Golkar tak punya ikon

Pengamat politik dari Reform Institute, Yudi Latief, Selasa, menyatakan, Partai Golkar semestinya berani dan tegas membedakan diri dari Partai Demokrat. Ketidakjelasan ikon bisa menyebabkan demoralisasi konstituen Partai Golkar.

”Sebagai partai tengah dengan peta dukungan yang relatif seimbang, semua partai akan menginginkan berkoalisi dengan Partai Golkar. Namun, Golkar akan berada pada posisi sulit, apakah JK (Jusuf Kalla) akan menyelamatkan harkat partai atau mengambil keputusan politik yang sifatnya ad hoc,” kata Yudi Latif seusai diskusi yang diadakan Badan Pengendalian Pemenangan Pemilu Partai Golkar di Jakarta.

Sebaliknya, apabila Partai Golkar tegas, sangat mungkin ada peningkatan perolehan suara.

Kendati dinilai lebih ideal apabila Partai Golkar tegas bersikap, Ketua DPP Partai Golkar Burhanuddin Napitupulu menyatakan tidak sependapat. Menurut dia, adanya tujuh nomine calon presiden yang disiapkan Partai Golkar merupakan strategi untuk memenangkan partai di daerah masing-masing. (INU/SUT/INA)