Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 03:16 WIB
Konyol, Ada Tuduhan Tanpa Indikasi Pendukung
Wisnu Dewabrata | Jumat, 30 Januari 2009 | 20:45 WIB
|
Share:

JAKARTA, JUMAT — Saat dihubungi di tempat terpisah, staf pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (Fisip UI), Andi Widjojanto, mengaku bingung dengan lontaran pernyataan Presiden Yudhoyono, yang dinilainya justru akan berdampak sangat kontraproduktif terutama bagi internal TNI sendiri.

Andi, Jumat (30/1), mengomentari lontaran tuduhan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya, yang menyatakan ada sejumlah petinggi TNI, khususnya di TNI Angkatan Darat, yang melancarkan gerakan “Asal Bukan Capres S” (ABS) menjelang Pemilihan Umum 2009. Presiden Yudhoyono menyatakan hal itu di Istana Negara, Kamis kemarin.

Pernyataan yang serba tidak jelas tersebut menurut Andi bukan tidak mungkin justru akan menciptakan keretakan di tubuh TNI, apalagi TNI Angkatan Darat, dan memecah belah serta mengadu domba di antara para petinggi dan perwira yang ada. Andi juga mengaku melihat bahwa kebingungan yang sama sudah mulai terjadi di tubuh TNI AD.

”Semestinya jika yang menyatakan itu seorang presiden, kejadiannya seharusnya memang terjadi dan ada. Akan tetapi, beberapa perwira tinggi TNI AD yang saya tanya bilang enggak tahu apa itu benar ada dan kenapa sampai presiden ngomong begitu. Mungkin juga karena ketakutan berlebihan,” ujar Andi.

Padahal menurut Andi, ketakutan macam itu tidak perlu ada, mengingat selama memerintah, Presiden Yudhoyono sudah menempatkan seluruh orang-orangnya di posisi jabatan strategis, termasuk di TNI. Menjadi konyol ketika tuduhan muncul, tetapi di sisi lain indikasi ke arah sana sama sekali tidak ada.

Tidak hanya itu, sejumlah pati TNI AD menurut Andi menganggap pernyataan Presiden Yudhoyono sebagai sekadar pernyataan politik yang sudah bukan lagi menjadi urusan mereka karena hal itu sudah masuk ke dalam ranah politik praktis.

”Memang jadinya serba tidak jelas. Seingat saya, perwira tinggi aktif TNI AD, yang secara terbuka menyatakan menolak Susilo Bambang Yudhoyono (Pemilu 2004) itu hanya (Mayjen Purn) Saurip Kadi. Kalau yang kasak-kusuk di belakang karena tidak puas sih memang banyak. Akan tetapi, belum sampai membuat gerakan macam Barisan Nasional,” ujar Andi.

Dari data Markas Besar TNI AD, Mayjen (Purn) Saurip Kadi terdata hingga akhir masa tugasnya sebagai Pati TNI AD setelah sebelumnya pernah menjabat sebagai Asisten Teritorial Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) di masa Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto masa jabatan 1999-2000.

Nama Saurip Kadi muncul dan kemudian tenggelam pasca-isu "Dokumen Bulak Rantai" pada pertengahan tahun 2000. Dalam dokumen tersebut, Saurip bersama Pangkostrad Letjen TNI Agus Wirahadi Kusumah (almarhum) dan sejumlah perwira TNI AD bertemu membahas reposisi di tubuh TNI AD. Akibatnya, jabatan Saurip sebagai Aster KSAD dicopot.