BANYUMAS, RABU--Raja Keraton Surakarta, Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIII Tedjowulan, menghadiri acara "Tutup Suran" (penutup bulan Sura atau Muharam, red.) di Lokawisata Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.
Wakil Koordinator Kerabat Keraton Surakarta wilayah Banyumas, Kanjeng Raden Haryo Tumenggung (KRHT) H. Gunawan Santoso Hadiningrat mengatakan, kedatangan Paku Buwono XIII dalam acara tersebut atas keinginan para kasepuhan (sesepuh, red.) di Banyumas.
"Para sesepuh mengharapkan sesaji-sesaji dalam ’Tutup Suran’ ini diserahterimakan kepada para keturunan Paku Buwono," katanya.
Menurut dia, wilayah Banyumas erat kaitannya dengan Keraton Surakarta karena dulu merupakan wilayah Kerajaan Pajang dan dilanjutkan oleh Mataram.
Ia mengatakan, acara tersebut baru pertama kali digelar dan rencananya akan dijadikan agenda tahunan dengan mengambil hari Selasa Kliwon di akhir bulan Muharam.
"Namun jika di akhir bulan Muharam tidak ada Selasa Kliwon, kita cari hari yang terdekat," katanya.
Selain SISKS Paku Buwono XIII Tedjowulan, kata dia, acara ini juga dihadiri keluarga Keraton Surakarta lainnya seperti Gusti Pangeran Haryo (GPH) Dipokusumo, Gusti Kanjeng (GK) Ratu Alit, dan Raden Ayu Poppy Dharsono (cucu Paku Buwono X).
Sementara itu SISKS Paku Buwono XIII mengatakan, kedatangannya dalam acara "Tutup Suran" dalam rangka "nguri-uri" (melestarikan) kebudayaan Jawa ditujukan untuk menyatukan budaya dan pariwisata.
"Kita mencoba menyeimbangkan antara budaya dan pariwisata karena dulu yang berkembang adalah pariwisatanya," kata Paku Buwono XIII.
Acara "Tutup Suran" tersebut diisi arak-arakan sesaji dan gunungan yang dibawa para "abdi dalem" menuju salah satu sudut Lokawisata Baturaden yang diyakini sebagai tempat "patilasan" Gusti Kenconowungu (kerabat Keraton Surakarta).
Sesampainya di patilasan tersebut, sesaji berupa buah-buahan, dua tumpeng kecil, minuman, dan sejumlah makan an tradisional, diserahkan kepada GPH Dipokusumo untuk diletakkan pada sebuah gubuk kecil yang tutupnya terbuat dari daun kelapa.
Setelah itu diakhiri dengan pembacaan surat Al Fatihah dan doa yang dilanjutkan penanaman sebuah pohon kayu mas.
Sementara gunungan yang terdiri "pala kependem" (umbi-umbian), "pala kasempar" (buah/sayuran di atas tanah), dan "pala gantung" (buah-buahan yang menggantung), dibawa kembali untuk diperebutkan kepada masyarakat.
Acara diakhiri kenduri atau makan bersama dengan makan an yang dibawa sendiri-sendiri oleh masyarakat. (ANT)

