Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 03:15 WIB
Penderita HIV/AIDS di Kota Semarang Bertambah
Harry Susilo | Selasa, 27 Januari 2009 | 19:54 WIB
|
Share:

SEMARANG, SELASA — Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Semarang terus bertambah dari tahun ke tahun. Deteksi dini terhadap orang yang berisiko terhadap penyakit ini turut membantu pendataan jumlah penderita.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Tatik Suyarti, Selasa (27/1) di Kota Semarang, mengungkapkan, jumlah penderita HIV terhitung sejak tahun 1995-2008 mencapai 674 orang, sedangkan pengidap AIDS mencapai 96 orang. Dari jumlah tersebut, 18 penderita di antaranya meninggal dunia.

Berdasarkan data Dinkes Kota Semarang, dalam kurun waktu empat tahun terakhir, tren jumlah penderita HIV terus meningkat. Sebagai contoh, terdapat 50 penderita HIV pada tahun 2005, 179 penderita HIV pada tahun 2006, 195 penderita pada tahun 2007, dan 199 penderita pada tahun 2008.

Jumlah pengidap AIDS di Kota Semarang juga ikut naik. Terdapat 11 pengidap pada tahun 2005, 25 pengidap pada tahun 2006, 33 pengidap pada tahun 2007, dan 15 pengidap pada tahun 2008.

Tatik menuturkan, bertambahnya jumlah penderita tersebut mengindikasikan bahwa warga yang berisiko terkena HIV/AIDS mulai terbuka untuk mengikuti berbagai tes pemeriksaan penyakit ini.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Langsung Dinkes Kota Semarang Tri Susilo Hadi mengatakan, dari seluruh jumlah penderita tersebut, 80 persen di antaranya tertular melalui hubungan seksual, sedangkan sisanya dari pemakaian jarum suntik pada narkotika dan penularan dari ibu ke anak.

"Sebanyak 60 persen di antaranya berada pada usia produktif atau antara 20-40 tahun. Tak heran, jika penderita kebanyakan dari kalangan pekerja seks komersial atau orang yang sering bergonta-ganti pasangan," ucapnya.

Tri Susilo menambahkan, terdapat tujuh program yang dapat membantu menanggulangi penyebaran HIV/AIDS, antara lain, komunikasi perubahan perilaku; voluntary counselling and testing (VCT); care, support, and treatment (CST); pencegahan penularan dari ibu yang positif HIV kepada anaknya; pengurangan dampak dari penggunaan narkotika suntik; program pemakaian kondom 100 persen; dan penyuluhan kesehatan masyarakat melalui media dan sekolah. "Kita juga sebarkan leaflet dan poster di tempat-tempat yang berisiko seperti lokalisasi dan resort," katanya.