Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 20:27 WIB
Gerhana Matahari Pengaruhi Cuaca, Efek Pasang Akan Maksimum
| Minggu, 25 Januari 2009 | 15:54 WIB
|
Share:

TERJADINYA gerhana yang menyebabkan sinar matahari yang sampai di bumi meredup dalam beberapa menit memberikan berbagai dampak perubahan lingkungan di bumi, terutama cuaca, arus angin, dan gelombang laut.

Menurut penjelasan pakar meteorologi dan astrofisika dari ITB, Mezak Ratag, Jumat (23/1), pada saat gerhana matahari, daerah yang dilintasi gerhana akan mengalami pengurangan radiasi matahari sesaat. Daerah bayang- bayang gerhana jauh lebih kecil, menjadi 2-3 persen dari daerah tersinari lainnya.

Selain itu karena singkatnya gerhana, orde kurang dari 10 menit, maka efeknya ke lingkungan bumi global dapat diabaikan. Namun, dampaknya terhadap dinamika cuaca lokal hingga regional bisa signifikan.

Pendinginan relatif yang terjadi sesaat dapat mengubah arus angin atau streamline lokal atau regional baik dalam arah vertikal maupun horizontal karena perubahan pola tekanan lokal. "Butterfly effect dari dinamika atmosfer yang khaotik mungkin secara berantai memengaruhi atmosfer global, tetapi dalam tingkat tidak signifikan," urainya.

Pasang laut

Thomas Djamaludin, pakar astronomi dari Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, juga berpendapat efek penggelapan beberapa menit tidak memberi dampak signifikan.

Namun akibat gerhana akan terjadi efek pasang maksimum yang sama dengan yang terjadi saat muncul bulan baru atau purnama. "Mungkin saat gerhana atau kurang lebih dua hari berpotensi terjadi penguatan dampak cuaca buruk di laut dan pantai," ujarnya. Selain itu dapat juga terjadi pemicuan pelepasan energi berupa gempa.

Manuel Sungging Mumpuni, peneliti bidang matahari dan antariksa dari Pusfat Sainsa Lapan, menambahkan, fenomena gerhana matahari cincin menarik perhatian para peneliti untuk mencocokkan perhitungan matematis dan pengamatan lapangan terhadap perubahan sinarnya, spektrum, dan untuk meneropong lembah di bulan.

"Peneliti dari Universitas Malaya Malaysia akan datang ke lokasi yang bakal mengalami gerhana matahari cincin," ujarnya. Ia berharap di Indonesia juga dibentuk Tim Pengamat Gerhana Nasional seperti yang dilakukan negara jiran itu, dikembangkan dari tim yang bertugas melakukan perhitungan hisab dan rukyat.

Fenomena ini bisa dimanfaatkan sebagai daya tarik untuk pariwisata karena merupakan fenomena langka.(YUN)

Sumber :
Kompas Cetak