Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 20:25 WIB
"Wes Ewes-ewes... Bablas Udane"!
| Minggu, 25 Januari 2009 | 08:30 WIB
|
Share:

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Mendung di atas Jakarta

Budi Suwarna dan Susi Ivvaty

Musim hujan telah tiba. Sebagian orang yang punya hajatan di musim ini merasa perlu ”berkolaborasi” dengan pawang hujan yang —katanya—bisa menghalau atau memindahkan hujan. Mereka tidak peduli apakah hujan sebenarnya berhenti atas kehendak alam atau atas kehendak sang pawang. Yang penting, wes ewes-ewes ... bablas udane.

Mendung tebal menggelayut tepat di atas rumah yang mengadakan hajatan di Karangsatria, Bekasi, akhir Desember 2008. Titik (42), si pemilik rumah sekaligus empunya hajatan, cemas hujan akan turun. Kenyataannya, hujan memang turun.

Namun, beberapa menit kemudian, hujan tiba-tiba berhenti. Langit pun kembali cerah dan matahari yang sedari pagi redup tiba-tiba bersinar terang. Titik pun lega dan hajatan perkawinan adiknya yang dia gelar, berjalan lancar hingga usai.

Bagaimana hujan bisa berhenti mendadak seperti shower yang kerannya ditutup? Mendengar pertanyaan itu, Titik hanya tersenyum. Sambil berbisik dia mengatakan, ”Kami pakai pawang hujan.”

Ini bukan pertama kali keluarga Titik memanfaatkan jasa pawang hujan. ”Sewaktu kakak saya menikah beberapa tahun lalu, kami juga menggunakan jasa pawang untuk berjaga-jaga,” katanya, Selasa (20/1).

Pawang yang Titik gunakan menggunakan metode zikir. Sang pawang meminta tujuh anggota keluarga yang punya hajat untuk berzikir dan berdoa kepada Allah agar menunda hujan. Salah seorang di antaranya harus zikir selama 12 jam nonstop pada malam hari sebelum hajatan berlangsung.

”Tapi, karena orang yang bertugas zikir kali ini ketiduran, hujan pun turun. Untung hanya sebentar,” ujar Titik sambil tertawa.

Gunawan Widjaja (64), kurator pameran seni kriya yang tinggal di Petamburan, Jakarta Pusat, juga menggunakan jasa pawang hujan ketika menggelar resepsi pernikahan putra keduanya di taman Gedung Arsip Nasional, Jalan Hayam Wuruk, tahun 2003.

Waktu itu, mendung tebal menggelayut di atas tempat resepsi. Gunawan sempat khawatir hujan akan turun dan melantakkan pesta taman. Namun, tiba-tiba mendung hilang. Hujan pun urung turun. Tetapi, di Harmoni yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari lokasi resepsi, hujan turun dengan derasnya.

Untuk menangkal hujan, Gunawan membayar Rp 1,75 juta. Ternyata, besannya juga menyewa pawang lain dengan biaya Rp 3 juta.

Pawang yang dia sewa tidak memberikan syarat apa pun. Namun, pawang yang dibayar besannya minta disediakan dua rantang nasi dan sebuah payung hitam. Gunawan tidak tahu, pawang yang mana yang kesaktiannya berhasil menyingkirkan hujan hari itu. Yang jelas, dia senang hujan tidak turun hari itu.

Untuk urusan menangkal hujan, sebenarnya Gunawan bisa melakukan sendiri, tetapi hanya untuk acara berskala kecil seperti pameran seni. ”Kalau acaranya besar, saya tetap pakai jasa pawang.”

Dia menangkal hujan dengan membalikkan sapu lidi bekas pakai. Di ujung-ujung lidi tadi, dia menancapkan bawang merah dan cabai merah.

Prosedur tetap

Tidak berhenti di momen hajatan, jasa pawang hujan juga digunakan penyelenggara konser musik dan acara luar ruang. Anita Surya, Event Supervisor Prisma—perusahaan konsultan public relation di Jakarta—mengatakan, pihaknya selalu menyediakan anggaran pawang hujan sebesar Rp 1 juta-Rp 2 juta jika menggelar acara luar ruang.

”Itu sudah jadi prosedur tetap. Mau musim hujan atau musim panas, kalau acaranya di luar ruang, kami pasti menyiapkan dana untuk pawang,” ujarnya.

Seniman Jay Subyakto juga selalu meminta bantuan pawang hujan ketika menggelar konser musik. Baginya, hal itu bukanlah klenik. ”Saya hanya percaya, di mana pun kita bekerja, kita mesti minta izin kepada masyarakat setempat dan Tuhan agar acara berjalan lancar,” ujarnya.

Karena itu, Jay tidak sembarangan memilih pawang. Untuk urusan menangkal hujan, Jay lebih suka meminta bantuan tetua setempat. Ketika menggarap pentas Megalitikum Kuantum di Kompleks Garuda Wisnu Kencana, Bali, tahun 2005, Jay ikut puasa dan ritual lain sesuai arahan pedanda setempat.

Setengah percaya

Sejauh mana mereka memercayai ”kesaktian” para pawang hujan? Bagi mereka yang tidak percaya, mungkin mereka akan terbahak-bahak mendengar hujan bisa ditangkal dengan cabai merah dan bawang merah. Itu kan bumbu masak.

”Tapi, kalau saya percaya sebab saya pun biasa melakukannya,” ujar Gunawan.

Jay sulit untuk tidak percaya. Pasalnya, setelah dia mengikuti syarat-syarat tetua, acara Megalitikum yang dia gelar tidak terganggu hujan. Hujan bahkan berhenti satu minggu penuh, padahal ketika itu sudah musimnya.

”Setelah acara selesai dan penonton baru sampai tempat parkir, barulah hujan turun sederas-derasnya,” katanya.

Anita dan Titik mengaku setengah percaya kepada pawang hujan. ”Saya menggunakan jasa pawang sekadar untuk berjaga-jaga. Soalnya ramalan cuaca kan sering meleset,” kata Titik.

Sementara itu, Anita menggunakan jasa pawang sekadar memenuhi prosedur tetap penyelenggaraan acara luar ruang yang berlaku di perusahaannya. ”Kalau sampai enggak ada pawang, lalu hujan turun dan acara rusak, gue pasti yang disalahin bos.”

Antropolog dari Universitas Gadjah Mada, Lono Simatupang, menuturkan, karena ramalan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang bersifat ilmiah tidak selalu akurat, masyarakat lantas melirik jasa pawang hujan yang akar tradisinya diperkirakan sudah ada di Nusantara sejak zaman pra-Hindu.

Dengan memanfaatkan jasa pawang, bukan berarti orang sekarang tidak percaya ramalan cuaca BMKG. Mereka hanya ingin memperbesar kemungkinan untuk mengantisipasi cuaca. Ini bukan sesuatu yang paradoks, tetapi saling melengkapi.

Lono mengajak kita untuk melihat pawang hujan sebagai bagian dari kearifan tradisi. Dalam perspektif orang sekarang, tradisi seperti ini memang tidak masuk akal. Maklumlah, tradisi bersandar pada kepekaan rasa, sedangkan ilmu modern bertumpu pada akal.

Masuk akal atau tidak, kenyataannya, pawang dicari-cari di musim hujan. Tentunya pawang hujan, bukan pawang ular. (Ilham Khoiri/ Dahono Fitrianto)