JAKARTA, SELASA - Belakangan ini, hampir setiap pusat perbelanjaan di Jakarta berlomba-lomba menggelar acara menyambut Tahun Baru Imlek 2560 semenarik dan semeriah mungkin dengan harapan pengunjung puas dan betah berbelanja berlama-lama.
Acara yang digelar pun bervariasi, mulai dari atraksi Barongsai dan Liong hingga fortune teller. Salah satu acara menarik yang tak boleh dilewatkan adalah Opera China Klasik 'San Pek Eng Tay' yang akan diselenggarakan pengelola Mal Taman Anggrek (MTA), Jakarta pada hari Sabtu 31 Januari pukul 15.30 WIB.
Opera berdurasi satu jam yang akan dibawakan oleh kelompok kesenian Tien Lung ini diperkirakan akan menyedot perhatian pengunjung di salah satu mal terbesar di Jakarta tersebut.
San Pek Eng Tay sendiri merupakan cerita rakyat di Negeri Tirai Bambu yang ditulis oleh Oey Kim Tiang. Saking populernya, kisah fiksi percintaan sepasang insan manusia tersebut pernah diangkat ke versi layar lebar, drama, lenong, dan bahkan ludruk. Walaupun penggemarnya sebagian besar orang dewasa, namun sebagian remaja sekolah pun dapat menikmatinya karena tema yang diangkat memang populer; percintaan.
Secara umum, opera San Pek Eng Tay berkisah mengenai cinta dua insan manusia yang berakhir tragis. Begini ceritanya ...Konon, pada abad ke-4 Masehi, tersebutlah dua insan manusia, Ciok Eng Tay, sang gadis, dan Nio San Pek, sang pria, yang saling jatuh cinta. Pertemuan mereka berawal ketika mereka sama-sama menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Awalnya, Eng Tay menyamar menjadi pria agar dapat bersekolah.
Budaya China pada era tersebut memang belum memungkinkan seorang wanita menempuh pendidikan tinggi. San Pek, yang saat itu belum mengetahui jati diri Eng Tay sebenarnya, menganggapnya sebagai adik kandungnya. Namun, begitu jati diri Eng Tay terungkap, perlahan-lahan perasaan San Pek berubah menjadi perasaan cinta terhadap seorang wanita.
Gayung bersambut.
Eng Tay pun merasakan hal yang sama. Mereka pun kemudian berkasih-kasihan secara sembunyi-sembunyi. Tapi, kisah asmara mereka harus kandas karena Eng Tay ternyata telah dijodohkan oleh seorang putra yang berasal dari keluarga kaya raya, Ma Bun Cay.
Mengetahui hal tersebut, San Pek pun menjadi patah arang dan menemui ajalnya tidak lama berselang. Eng Tay pun sangat terpukul dengan kejadian tersebut, namun the show must go on. Tibalah pada hari pernikahan Eng Tay dan Bun Cay.
Dalam arak-arakan menuju rumah Bun Cay, Eng Tay menyempatkan diri untuk mengunjungi pusara mantan kekasihnya tersebut. Setibanya di sana, tangisan Eng Tay kembali meledak. Air mata mengalir deras dan membasahi wajahnya. Kondisinya terguncang akibat kesedihan yang amat mendalam.
Dikisahkan, pada saat itu pusara San Pek merekah sehingga tercipta lubang besar. Karena cinta dan frustasi yang mendalam, Eng Tay pun memutuskan terjun ke dalam pusara orang yang dicintainya.Konon, setelah kejadian tersebut, masyarakat kerap melihat sepasang kupu-kupu di atas pusara mereka.
Penasaran dengan pelakonan San Pek Eng Tay? Datang saja ke MTA!
