Presiden AS terpilih, Barrack Hussein Obama, pernah empat tahun tinggal di Indonesia. Kendati kini sudah terpisah jauh secara waktu dan tempat, banyak orang Indonesia yang dibuat senang dengan kemenangan Obama. Salah satu dari mereka itu adalah Lia alias Mbak Non, kakak angkat Obama saat berada di Indonesia.
”Saya memanggilnya Barry karena sulit mengucapkan Barrack. Makanya, saya panggil dia Barry,” kata Lia (51), Selasa (13/1) di rumahnya, di Kampung Babakan Banten, Desa Sukasirna, Kecamatan Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat.
Pertemuan Lia dan Barry adalah sebuah kebetulan. Suatu pagi pada tahun 1966, Lia yang baru berusia tujuh tahun kabur dari rumahnya. Lia kecil yang bingung terdampar ke sebuah rumah di Bogor milik Ny Siti. Ternyata, Ny Siti adalah pembantu di rumah pasangan Lolo Sutoro dan Stanley Ann Dunham di Jakarta. Saat Ny Dunham menjemput Siti untuk kembali ke Jakarta, dia meminta Lia menjadi anak angkat.
Dua tahun setelah Lia menjadi anak angkat Sutoro dan Dunham, Sutoro menjemput Barry dari AS. Saat itu, Sutoro menjadi salah seorang manajer di PT Pertamina. Pada awalnya, Lia senang karena berarti akan memiliki teman sekaligus adik angkat. ”Saat bertemu, saya bilang ke Ibu, saya tidak senang karena anaknya hitam dan tidak bisa berbahasa Indonesia,” kata Lia.
Ny Dunham meyakinkan Lia bahwa Barry akan menjadi adik yang menyenangkan. Setelah mendapat les bahasa Indonesia selama tujuh bulan, Barry mulai bisa berkomunikasi dengan Lia dan Siti yang dipanggil dengan Simbok.
Barry memanggil Lia dengan panggilan Mbak Non, mengikuti panggilan ibunya. Ada banyak kenangan di benak Lia mengenai sosok Barry. Salah satu kenangan yang tak bisa dilupakan Lia adalah hobi Barry berpidato.
Lia bertutur, Barry sangat senang menyimak pidato Presiden Soeharto di televisi. ”Ketika Presiden Soeharto berpidato, Barry mencatatnya dengan rapi. Setelah itu, dia mempraktikkan pidato Presiden Suharto di hadapan seisi rumah,” ujar Lia.
Suatu ketika, Barry menirukan pidato Presiden Soeharto di sebuah acara yang beberapa kali menyatakan Indonesia sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi. ”Dia sangat sulit mengeja kata-kata itu, tetapi memaksakannya sehingga terdengar lucu,” ujar Lia.
Di rumah, Barry dan Lia tidur sekamar, tetapi beda tempat tidur. Barry selalu menginginkan Lia dan dirinya tidur serta bangun bersama. Kalau Lia bangun lebih dahulu dan meninggalkan Barry, dia akan marah besar. ”Setelah itu, dia kemudian mengikat tangan saya dan tangannya dengan tali panjang. Kalau salah satu bangun, baru boleh meninggalkan kamar kalau sudah membangunkan yang lain,” ujar Lia.
Pada tahun 1971, Barry pulang ke Hawaii. Lia ikut dan sempat tiga bulan di Hawaii sebelum pulang ke Indonesia. Di Hawaii, Lia sering diajak Barry pergi ke pantai atau ke pusat perbelanjaan. Lia sedih saat berpisah dengan Barry.
Menjelang pelantikan Obama, Lia mendapat pemberitahuan akan diundang oleh anggota tim sukses Obama. Namun, hingga kini tak ada kepastian. Kendati mengaku ingin sekali bertemu dengan adik angkatnya itu, Lia memilih mengubur keinginannya dalam-dalam. Lia sudah senang adiknya yang hitam, dekil, dan sering menjengkelkan itu menjadi Presiden AS.
