HUJAN deras yang mengguyur Jakarta pada Senin (19/1) dini hari menyebabkan sejumlah permukiman di kawasan utara Jakarta tergenang hingga sore ini. Akibatnya, lalu lintas di kawasan utara Jakarta seperti Kelapa Gading, Sunter, Serdang, Kemayoran, Sukapura, dan Kayuputih lumpuh total.
Sejumlah ruas jalan tidak bisa dilewati, seperti Boulevard Barat di Kelapa Gading, Jalan Yos Sudarso, dan Ahmad Yani. Adapun di banyak jalan lain kendaraan harus merayap pelan untuk menghindari genangan.
Akibat genangan yang tinggi di Jalan Ahmad Yani dan Yos Sudarso, kendaraan di jalan tol layang Ir Wiyoto Wiyono (Cawang-Tanjung Priok) tidak bisa turun di ramp Cempaka Putih dan Sunter. Malah, sepeda motor pun banyak yang naik ke jalan tol layang Cawang-Priok.
Akibat genangan pula, sejumlah sekolah di kawasan Sunter, Kelapa Gading, dan Kemayoran diliburkan. Adapun pelajar sekolah lain di kawasan Rawamangun dipulangkan lebih awal karena banyak yang tidak masuk, atau gurunya yang tinggal di Bekasi tidak bisa sampai ke sekolah karena terjebak banjir di Jalan Raya Bekasi, tepatnya di depan Taman Modern, Cakung, Jakarta Timur.
Pemantauan Kompas.com, banjir (tepatnya genangan) yang merendam Jakarta pada hari Senin ini bukan berasal dari luapan sungai seperti beberapa hari lalu. Sebabnya, pada saat banjir melanda kawasan utara Jakarta kali ini, sungai dalam keadaan normal, seperti Kali Sunter, Kali Cipinang, Kali Cakung Drain, dan Kali Baru.
Artinya, banjir besar yang melumpuhkan kawasan elit Kelapa Gading dan Sunter itu betul-betul karena buruknya drainase kota. Bagaimana kalau hujan deras itu bersamaan dengan banjir kiriman dari Bogor dan pasang laut? Masih menyalahkan Banjir Kanal Timur yang tak kunjung usai? *
