Sabtu, 4 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 4 Februari 2012 | 09:28 WIB
Kue Keranjang Sulit Naik Harga
Ayu Sulistyowati | Jumat, 16 Januari 2009 | 15:09 WIB
|
Share:

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI
Perajin kue keranjang

NYOMAN Dharma (60), menghela napas sambil memandangi ratusan kue keranjang yang tengah menunggu matang. Ia adalah salah satu keturunan asli China-Bali dari Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, yang merantau ke Denpasar untuk melestarikan kue khas Imlek, Kue Keranjang.

Bagaimana tidak ia menghela napas. Kue yang hanya muncul dan dibuatnya setahun sekali itu ternyata penuh pengorbanan tahun ini. Ia bersama sang istri Putu Juniarti (42 ), harus mencari minyak tanah yang harganya kian melonjak di Denpasar sekitar Rp 6.000 per liternya. Apalagi minyak tanah sudah dikonversi ke gas dan Denpasar merupakan salah satu wilayah yang ditarget 100 persen hilang untuk minyak tanah.

"Sudah sulit mencarinya, mahal harganya. Kami tidak boleh pula membeli di daerah lain selain Denpasar. Jadi, kami terpaksa membeli mahal dan menimbunnya sejak sebulan lalu. Setiap hari kami mengumpulkan lebih dari lima liter sehari," katanya.

Ia juga mengeluhkan mahalnya harga gula dan beras ketan. Beras ketan yang dibutuhkannya untuk bahan baku dengan mutu terbaik dibelinya seharga Rp 17.000 per kilogram dari Rp 12.000 per kilogram sebelum ini.

Namun, perajin kue keranjang asli China-Bali ini tidak bisa berbuat apa untuk menaikkan harga. Keadaan sekarang tidak memungkinkan menaikan harga.

"Belum lagi pesaing kami yang sebenarnya beberapa tidak sehat karena menggunakan pewarna. Karenanya, kami tetap melabel harga grosir Rp 9.500 per buahnya. Soal untung, ya, ada saja rezeki. Meski sedikit, kami tetap mensyukurinya," ujarnya.  

Kue buatannya tidak menggunakan gula Jawa atau gula Bali, melainkan tetap menggunakan gula pasir yang diberi aroma daun pandan. Kamis (15/1) pagi itu, ia tengah memasak dan mengaduk-aduk air gulanya agar matang. Ia mengaku sebelum memasak, perlu prosesi sembahyang agar kue-kuenya enak dan matang. Jika tidak, ia percaya Tuhan tidak akan merestuinya.  

"Selain itu, segala hal memang harus diniati dengan itikad baik termasuk keikhlasan. Kami sebagai suami istri harus akur ketika memasak dan bekerja sama dengan baik," ceritanya.  

Alasannya, ia pernah tidak melakukan ritual apa pun sebelum memasak. Hasilnya, semua kue-kue tidak matang dan jelek sekali hasilnya. Adanya, katanya, hanya sesal dan rugi.  

Ia sendiri mendapatkan resep dari tempat kerjanya dulu di Jawa Barat. Oleh karena harus pulang ke Bali, mulai 1983 ia pun merintis usaha kue keranjang dengan label nama China-nya sendiri, Shiong. Ia pun meyakini hanya dirinya yang keturunan China-Bali asli yang menganut dua keyakinan Hindu-Buddha yang melestarikan usaha kue keranjang ini.  

"Sekarang ia mendapat kebanjiran pesanan sedikitnya 2.000 kue. Meski menurun dari dua tahun terakhir dari 3.500 kue pesanan. Selamat Imlek, ya. Semoga sejahtera semua," kata Dharmana.