JAKARTA, KAMIS — Selain digunakan untuk melakukan stimulasi fiskal dan moneter, sisa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang totalnya mencapai Rp 51,3 triliun akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek padat karya, yang dapat diajukan oleh setiap departemen/kementerian negara.
Dengan demikian, selain dapat mempertahankan daya saing sektor industri dan memacu pertumbuhan ekonomi, sisa APBN juga dapat membuka lapangan kerja. Sampai saat ini, dana yang telah digelontorkan untuk stimulasi fiskal baru mencapai Rp 12,5 triliun.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani di hadapan para pengusaha pada acara perkenalan pengurus Kamar Dagang Indonesia (KADIN), dan pertemuan Menko Ekonomi, Kamis (15/1) di Financial Hall, Graha Niaga, Jakarta.
Stimulus fiskal tersebut, lanjut Sri Mulyani, berupa penyesuaian pembayaran PPH Pasal 23, fasilitas PPH Pasal 21 untuk pekerja dengan batasan pendapatan tertentu, pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP), dan bea masuk yang ditanggung pemerintah (BM DTP) untuk sektor minyak dan gas, panas bumi, minyak goreng, bahan bakar nabati, garmen, otomotif, elektronika, alas kaki, alat berat, serta telematika.
Selain hal yang disebutkannya, Sri Mulyani terbuka terhadap usulan-usulan pengusaha. "Selain itu, sisa anggaran akan digunakan untuk stabilize budget yang mengalami shock dari sisi revenue," ujar Sri Mulyani, yang didampingi oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Ketua Kadin MS Hidayat.
Untuk program padat karya, Sri Mulyani mengimbau agar pejabat departemen/kementerian dapat mengajukannya sesegera mungkin. "Proyek tersebut harus dapat create job yang dapat dilakukannya sesegera mungkin, dan feasible dijalankan pada kuartal pertama. Proyek tersebut misalnya, pembangunan infrastruktur, pelabuhan udara, pergudangan, dan rehabilitasi pasar. Jangan beri saya shopping list," ujar Sri Mulyani seraya tersenyum.
Tentang sisa anggaran, Sri Mulyani mengatakan, hal ini merupakan yang terbesar sejak dirinya menjabat sebagai menteri keuangan. "Padahal, saat ini seluruh negara-negara di seluruh dunia menderita financial crisis, capital crisis, dan bond crisis. Jadi, boleh dong kasih apresiasi buat saya," kata Sri Mulyani sambil tersenyum, dan diikuti tepuk tangan dari para undangan.

