Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 02:36 WIB
Hoyak Tabuik Meriahkan Hari Pers
Jodhi Yudono | Kamis, 15 Januari 2009 | 03:10 WIB
|
Share:

KOMPAS/MAHDI MUHAMMAD
Seorang warga Sicincin, Kabupaten Padang Pariaman, Kamis (3/5), memasang uangnya di pohon uang, sebelum diarak keliling nagari. Arak-arakan dalam Upacara Tabuik itu dilakukan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW.

PADANG, KAMIS--Tradisi budaya "Hoyak Tabuik" Pariaman, akan memeriahkan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tingkat Sumatera Barat (Sumbar) di Padang pada akhir Februari 2009.

"Kita sudah mendapatkan sponsor tunggal untuk menggelar tradisi hoyak tabuik itu, sehingga kegiatan budaya dari daerah Pariaman tersebut masuk dalam rangkaian memeriahkan HPN di Sumbar," kata Ketua PWI Sumbar, Basril Basyar kepada ANTARA di Padang, Selasa.

Tabuik berbentuk bangunan bertingkat tiga terbuat dari kayu, rotan, dan bambu dengan tinggi mencapai 10 meter dan berat sekitar 500 kilogram.

Bagian bawah Tabuik berbentuk badan seekor kuda besar bersayap lebar dan berkepala "wanita" cantik berjilbab. Kuda gemuk itu dibuat dari rotan dan bambu dilapisi kain beludru halus warna hitam dan pada empat kakinya terdapat gambar kalajengking menghadap ke atas.

Kuda tersebut merupakan simbol kendaraan Bouraq yang dalam cerita zaman dulu adalah kendaraan yang memiliki kemampuan terbang secepat kilat.

Pada bagian tengah Tabuik berbentuk gapura petak yang ukurannya makin ke atas makin besar dengan dibalut kain beludru dan kertas hias aneka warna yang ditempelkan dengan motif ukiran khas Minangkabau.

Di bagian bawah dan atas gapura ditancapkan "bungo salapan" (delapan bunga) berbentuk payung dengan dasar kertas warna bermotif ukiran atau batik.

Pada bagian puncak Tabuik berbentuk payung besar dibalut kain beludru dan kertas hias yang juga bermotif ukiran. Di atas payung ditancapkan patung burung merpati putih.

Di kaki Tabuik terdapat empat kayu balok bersilang dengan panjang masing-masing balok sekitar 10 meter. Balok-balok itu digunakan untuk menggotong dan "menghoyak" Tabuik yang dilakukan sekitar 50 orang dewasa.

Tabuik dibuat melibatkan para ahli budaya dengan biaya mencapai puluhan juta rupiah untuk satu Tabuik.

Menurut Basril, untuk menggelar tradisi tabuik memeriahkan HPN memang dibutuhkan sponsor yang kuat karena memerlukan biaya puluhan juta dan melibatkan lebih dari 100 orang anak tabuik.

Sponsor itu adalah komunitas warga keturunan Tionghoa tergabung dalam Himpunan Tjinta Teman (HTT) Padang menyatakan kesediaannya menanggung segala biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan tradisi tersebut.

Dengan demikian, tradisi tabuik tersebut sekaligus untuk perbauran budaya antara masyarakat Minang di Padang dengan warga keturunan Tionghoa, tambahnya.

Ia menyebutkan, acara Hoyak Tabuik itu akan dimulai dari Depan Kantor PWI Sumbar Jalan Bagindo Aziz Chan, selanjutnya ratusan anak tabuik akan mahoyak (mengarak) tabuik menelusuri jalan utama, Bagindo Aziz Chan, Mohammad Yamin dan Imam Bonjol serta finis di lapangan terbuka hijau Imam Bonjol.

Di lapangan, Tabuik kembali dihoyak ratusan pemuda diikuti duntuman alunan musik tradisional Minangkabau, Tasa, katanya.(ANT)