WASHINGTON, SELASA - Senator Hillary Clinton menjanjikan diplomasi dan ”kekuatan cerdas” dalam politik luar negeri AS. Hillary, yang dipilih sebagai menteri luar negeri di pemerintahan Presiden AS terpilih Barack Obama, juga menjanjikan pembaruan kepemimpinan AS.
Janji itu diutarakan Hillary saat berdiri di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat guna mencari persetujuan anggota Senat atas jabatan menteri luar negeri, Selasa (13/1).
”Hillary menekankan bahwa dia dan presiden terpilih yakin AS harus lebih cerdas dan lebih kuat,” kata seorang pejabat di tim transisi Obama yang tidak disebutkan namanya.
Senator Hillary, lanjut pejabat itu, yakin dengan ”kekuatan cerdas”, yaitu pemanfaatan seluruh alat kebijakan luar negeri. Hillary juga meyakini bahwa diplomasi harus berada di garis depan kebijakan luar negeri AS dan harus diseimbangkan dengan kekuatan militer agar berhasil.
Selain warna kebijakan luar negeri, Hillary menghadapi pertanyaan soal sikap pemerintahan Obama terhadap konflik di Jalur Gaza, janji penutupan Penjara Teluk Guantanamo, penarikan pasukan AS dari Irak, program nuklir Iran, dan hubungan AS-Rusia di masa depan.
Hillary juga menghadapi pertanyaan soal hubungan suaminya, mantan Presiden Bill Clinton, dengan sejumlah organisasi dan pemerintahan asing. Clinton Foundation, yang bergerak di bidang pemberantasan penyakit, kemiskinan, dan pemanasan global, menerima 75 juta dollar AS hingga 165 juta dollar AS dari beberapa organisasi yang dibiayai pemerintahan di Timur Tengah dan beberapa negara lain. Hubungan itu bisa menimbulkan konflik kepentingan bagi Hillary.
Mampu
”Tidak ada penghalang. Kami memiliki kepercayaan besar terhadap kemampuan dia (Hillary) untuk melakukan tugasnya dengan baik,” kata Senator John Kerry, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, saat diwawancara, Senin.
Anggota Senat dari Partai Republik diperkirakan tidak akan mencoba menghalangi konfirmasi Hillary sebagai menlu. Jika disetujui Senat, Hillary akan resmi menjadi menlu saat pelantikan Obama pada 20 Januari.
Carlos Pascual dari lembaga pemikir Brookings Institution mengatakan, Obama dan Hillary sama-sama melihat isu kunci dalam konteks global. Misalnya, penyebaran pengetahuan dan material nuklir, dampak luas dari penurunan ekonomi, jaringan teroris yang sudah mencapai taraf internasional, dan dampak transnasional dari penyakit dan kemiskinan.
Larry Sabato, Direktur Pusat Politik pada University of Virginia, mengatakan, Hillary telah mempersiapkan diri dengan baik untuk menjawab segala pertanyaan di Senat. ”Pada titik tertentu, kalangan Republik akan membiarkannya,” katanya. (AP/FRO)
