Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 02:33 WIB
PBB Serukan Gencatan, Israel Terus Menggempur
Tri Mulyono | Jumat, 9 Januari 2009 | 14:23 WIB
|
Share:

GETTY IMAGES/ABID KATIB
Psioterapi Corrie Vaw Wijk dari Belanda yang bekerja untuk sukarelawan Palang Merah Internasional memberi perawatan kepada gadis Palestina, Jamela Habbash (15), yang kehilangan kaki akibat serangan misil Israel pekan lalu di Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza, Kamis (8/1).

TERKAIT:

GAZA CITY, JUMAT — Pesawat-pesawat tempur Israel terus membombardir Gaza saat PBB menyerukan gencatan senjata, Kamis (8/1) malam. Sedikitnya 30 serangan udara dilancarkan Israel dalam gempuran terbaru, menewaskan sedikitnya enam orang.

Saksi mata dan tim medis kepada AFP menyebutkan, enam korban tewas itu sebagian besar berasal dari satu keluarga di Jalur Gaza utara.

Berdasarkan laporan terakhir, jumlah korban rakyat Palestina sejak dimulainya serangan negara Yahudi itu terhadap Gaza, 27 Desember, telah mencapai 774 orang. Korban tewas sebagian besar berasal dari penduduk sipil, terdiri atas wanita dan anak-anak. Selain itu, sekitar 3.200 orang lainnya cedera.

Dewan Keamanan PBB, Kamis, menyerukan gencatan senjata segera di Gaza yang diharapkan oleh negara-negara Arab dapat mengakhiri serangan 13 hari Israel. Namun, AS dengan tidak diduga abstain dalam pemungutan suara itu.
   
Sebuah resolusi yang dirancang dalam tiga hari tawar-menawar antara negara-negara Barat dan Arab menekankan perlunya gencatan senjata segera dan menarik semau pasukan Israel dari Gaza.
    
Resolusi itu juga menyerukan membentuk peraturan guna mencegah penyelundupan senjata ke para pejuang Palestina. Beberapa pejabat Arab khawatir abstainnya AS  dapat melemahkan tekanan terhadap Israel untuk mentaati resolusi itu.
     
Para diplomat mengatakan, Menlu AS Condoleezza Rice, yang beberapa kali dalam hari itu berbicara dengan PM Israel Ehud Olmert, berbicara melalui telepon dengan Presiden AS George W Bush persis sebelum pemungutan suara itu dilakukan.
     
Rice mengemukakan kepada Dewan Keamanan bahwa Washington mendukung resolusi yang diprakarasi Mesir dan Uni Eropa itu. Ia menjelaskan, AS abstain hanya karena pihaknya ingin melihat apakah resolusi itu mendapat dukungan.
     
Dengan tidak mendukung resolusi itu, AS dianggap berpihak pada sekutu dekatnya,  Israel. Israel menentang gagasan resolusi PBB yang mengikat. Dubes Yahudi untuk PBB Gabriela Shalev menekankan, tindakan negaranya untuk melancarkan serangan di Gaza sebagai pembelaan diri.

Sumber :
AP