JAKARTA, KAMIS - Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Kamis (8/1) pagi merosot 85 poin menjadi Rp 10.900/10.985 per dollar AS dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 10.815/10.900.
Pelaku pasar melepas rupiah setelah hari sebelumnya naik tajam hingga jauh di bawah angka Rp 11.000 per dollar AS, kata Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan, meski turun, posisi rupiah masih di bawah Rp 11.000 per dollar AS. Hal ini menunjukkan mata uang Indonesia masih cukup aman. Penurunan rupiah saat ini hanya merupakan koreksi pasar, setelah mengalami kenaikan cukup tajam.
Kalau melihat indikator ekonomi yang cukup bagus, peluang rupiah untuk menguat masih ada. Bahkan, diperkirakan akan dapat mendekati angka Rp 10.500 per dollar AS (sebelumnya capai Rp 10.750). "Kami optimis pasar masih mendukung pergerakan rupiah apalagi laju inflasi Desember cukup baik yang mencapai deflasi 0,04 persen," ucapnya.
Menurut Kostaman, rupiah terpuruk juga akibat memburuknya bursa Wall Street yang diikuti oleh bursa Asia, berimbas pada pasar modal Indonesia sehingga menimbulkan sentimen negatif terhadap pasar uang.
Koreksi terhadap rupiah diperkirakan tidak berlangsung lama karena ini merupakan aksi ambil untung pelaku pasar. Kondisi pasar seperti ini tidak mendorong Bank Indonesia (BI) untuk masuk pasar melakukan intervensi, karena posisi rupiah masih cukup bagus.
Rupiah masih aman bahkan dinilai cukup stabil jadi koreksi harga yang terjadi saat ini tidak perlu dikhawatirkan. "Kami memperkirakan pada perdagangan sore nanti kemungkinan rupiah akan kembali membaik, apalagi dengan muncul isu positif internal," ucapnya.
