Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 18:24 WIB
Arsitek Pusat Informasi Majapahit Dimintai Keterangan
Yulvianus Harjono | Rabu, 7 Januari 2009 | 21:01 WIB
|
Share:

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Kondisi situs purbakala berupa sisa-sisa fondasi dari bata merah, konstruksi sumur kuno dan terakota dari bekas ibu kota Majapahit rusak karena penggalian tanah untuk pembuatan fondasi beton dan tembok proyek pembangunan Pusat Informasi Majapahit di Kompleks Museum Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Senin (29/12). Bangunan di latar belakang adalah gedung museum purbakala yang ada saat ini.

TERKAIT:

BANDUNG, RABU — Menyikapi kasus pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) di Trowulan, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat melakukan pemanggilan terhadap Baskoro Tedjo. Dosen Institut Teknologi Bandung ini adalah arsitek yang menangani pembangunan PIM.

Ketua IAI Jabar Pon S Purajatnika, Rabu (7/1), mengatakan, pemanggilan itu sebatas klarifikasi. Kegiatan ini juga melibatkan sejumlah anggota Dewan Kehormatan IAI Jabar. Namun, ia belum mau menyebutkan detail hasil klarifikasi ini.

Menurutnya, kasus ini harus disikapi secara bijaksana. Ia mengakui, dalam beberpa kasus, arsitek kerap berada pada posisi tawar yang lebih rendah dari pemilik proyek.

"Janganlah lantas seseorang dijadikan sasaran kambing hitam. Dalam kasus ini, Mas Bas (Baskoro Tedjo) kan hanya menangani secuil dari master plan yang ada. Yang perlu ditelusuri adalah siapa pembuat masterplan itu? Jangan ada kesan mengarah ke seseorang," ujarnya.

Kalau memang arsitek tersebut terbukti melanggar kode etik arsitek, jelas Pon, sanksi dapat berupa teguran hingga pencabutan lisensi. Proses klarifikasi terhadap Baskoro akan terus berlangsung.

Baskoro selama ini dikenal sebagai arsitek yang cukup concern terhadap desain arsitektur hijau. Karya-karyanya antara lain Kompleks Pemakaman Bung Karno, Student Center ITB, dan Gedung Galeri Selasar Sunaryo.