Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 19:33 WIB
Green Architecture Semakin Diminati
Yulvianus Harjono | Rabu, 7 Januari 2009 | 20:03 WIB
|
Share:

TRI HARSO KARYONO
Rumah Hemat Energi karya Tri Harso Karyono: Dengan orientasi bangunan yang tepat, ventilasi silang yang memadai, rumah sejuk tanpa AC seluas 200 meter persegi di Tangerang hanya menghabiskan kurang dari 100.000 rupiah tagihan PLN per bulan.

BANDUNG, RABU - Pendekatan arsitektur hijau diprediksi akan dimanfaatkan lebih luas di 2009. Menurut pakar arsitektur Ridwan Kamil, pendekatan ini sinergi pula dengan persoalan global, yaitu lingkungan hidup dan hemat energi.

Desain rumah yang pencahayaan luas, sirkulasi udaranya tinggi, dan memiliki pengolahan air sendiri bakal lebih banyak dicari. Biaya operasionalnya pun lebih rendah  Pendekatan macam ini akan menjadi nilai keunggulan dalam persaingan.

"Saat ini, banyak tenant-tenant di perkantoran yang menginginkan gedung kantor itu memakai desain ini. Terutama di Amerika," ujar Ridwan Kamil yang juga Ketua Bandung Creative City Forum.

Arsitek principal PT Urbane yang menangani sejumlah proyek besar di luar negeri ini memprediksi, krisis finansial global akan berdampak pada proyek-proyek besar jasa kontruksi. Arsitektur, khususnya pada desain urban atau proyek pemerintah, relatif masih akan berjalan. Yang terhambat dan tertunda adalah konstruksi proyek-proyek besar.

Ia menyarankan, agar bertahan, arsitek melirik kembali proyek-proyek berskala kecil atau yang didanai pemerintah. Proyek perumahan skala kecil ini umumnya tidaklah memanfaatkan modal (capital) dari perbankan. Sehingga, relatif tidak terpengaruh suku bunga yang tinggi.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan per 2006, arsitektur menyumbangkan 3,2 persen dari total Rp 104,7 triliun pendapatan industri kreatif. Meskipun kontribusinya tidak terlalu besar, arsitektur ikut mengharumkan nama Jabar ke pentas nasional maupun internasional.