Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 02:24 WIB
Orangtua Terpaksa Bangun Pukul 04.00
Maya Saputri | Senin, 5 Januari 2009 | 08:56 WIB
|
Share:

JAKARTA, SENIN — Peraturan baru jam masuk sekolah per hari ini diubah dari pukul 07.00 menjadi 06.30 menuai protes dari orangtua siswa di beberapa sekolah. Seperti dituturkan Fanny (34) yang terpaksa bangun pukul 04.00 karena harus mempersiapkan keperluan sekolah dua anaknya di bangku SD dan SMP.

“Kalau bangun pagi sih tak masalah, tapi kasihan anak saya yang jam istirahatnya kurang. Biasanya bangun pukul enam pagi, sekarang ia harus bangun jam lima pagi, padahal ada ekstrakurikuler hingga sore, kapan istirahatnya dong,” katanya kepada Kompas.com saat mengantar anaknya di SDN Palmerah 07 Pagi, Palmerah Utara, Jakarta, pagi ini.

Setiap pagi, Fanny berangkat ke kantor bersama kedua anaknya dari rumah di daerah Rawa Belong, Jakarta Barat, pukul 06.30 WIB. “Sekarang jam enam harus keluar dari rumah, yang repot kalau jalanan macet. Tahu sendiri jalan dari Rawa Belong ke Palmerah kalau pagi macetnya bisa berjam-jam,” jelasnya.

Fanny mengatakan pagi ini lalu lintas masih normal, tetapi ia siap untuk berangkat pukul enam kurang hari berikutnya. “Kalau saya terlambat ke kantor tak apa, tapi jangan sampai anak-anak terlambat masuk sekolah. Yah, penginnya sih bisa tetap jam tujuh aja, saya sih kasihan anak-anak kalau pulang sore karena ada ekskul, kalau rumah dekat kan bisa pulang sendiri, tapi kalau yang rumahnya jauh gimana,” katanya.

Seperti Fanny, Anto (35) juga mengaku kewalahan saat harus bangun setengah jam lebih pagi demi mengantar anak ke sekolah. “Saya kerja di hotel, pulang baru jam dua pagi, eh jam enam nganter anak sekolah. Biasanya jam tujuh kurang, karena memang rumahnya dekat."

Sementara itu, beberapa orangtua di sekolah yang belum menerapkan masuk sekolah pukul 07.00 justru meminta tak diubah. “Anak saya kan kelas tiga SD jadi sudah ikut ekskul, pulangnya bisa sampai jam empat sore. Kalau masuk sekolah pukul 06.30, masih ada waktu sejam tak terpakai, bagi yang rumahnya dekat tak masalah, bisa istirahat pulang ke rumah,” kata Shinta (38) yang mengantar anaknya, Vally (8), di SD Al Azhar Kemandoran, Jakarta Barat.

Shinta mengaku tak masalah kalau harus berangkat lebih pagi dari rumahnya di Ulujami, Cipulir, tetapi tak tega melihat anak semata wayangnya berkurang waktu untuk bermain dan bersosialisasi bila jam masuk sekolah dimajukan.

“Anak kan juga perlu untuk bermain dengan teman sebaya, itu juga bagian dari pembentukan pribadinya. Kalau pulang sudah sore, kan mereka capek dan tidak punya waktu untuk istirahat. Jadi saya tetep setuju masuk seperti sekarang pukul tujuh saja,” tegas ibu rumah tangga ini.