Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 02:23 WIB
Banjir Landa Medan, 1611 Bangunan Terendam
Andy Riza Hidayat | Minggu, 4 Januari 2009 | 17:33 WIB
|
Share:

KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT
Banjir di pusat Kota Medan menyebabkan kepadatan lalu lintas terjadi di Jalan Stasiun Kereta Api, Jumat (10/10) pagi. Banjir ini terjadi setelah hujan lebat mengguyur Medan sekitar dua jam. Hujan yang belakangan sering turun membuat kondisi tanah di kawasan ini jenuh. Kondisi ini diperparah dengan kondisi drainase yang buruk

MEDAN, MINGGU - Banjir di wilayah Medan dan sekitarnya menggenangi 1.611 bangunan termasuk rumah warga, sekolah, dan tempat ibadah. Genangan air terpusat di daerah aliran Sungai Deli. Musibah ini terjadi karena badan sungai tidak mampu menampung luapan air yang melimpah. Sehari sebelumnya hujan terus mengguyur di sebagian wilayah Sumatera Utara.

"Air mulai naik pukul 11.00. Trus meluap sampai se leher saya pukul 01.00. Biasanya pagi sudah surut, tetapi sampai sekarang belum surut," tutur Eli (41) warga Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimon, Medan, Minggu (4/1) saat ditemui. Eli terpaksa merelakan hampir seluruh barang di rumahnya terendam air. Dia bersama suami dan dua anaknya menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Kelurahan Sei Mati merupakan salah satu daerah terparah terkena banjir di Medan.

Selain di jalan-jalan, warga juga mengungsi ke kantor lurah, dan rumah warga yang lebih tinggi. Humas Pemerintah Kota Medan Rusdi Siregar menuturkan banjir menggenangi bangunan di Kelurahan Aur (370 bangunan), Jati (7), Sei Mati (569), Hamdan (325), dan Kampung Baru. Seluruh wilayah ini secara administratif berada di Kecamatan Medan Maimon.

Menanggapi lambatnya air surut, Rusdi mengatakan hal ini terjadi karena kebetulan air laut di utara Medan sedang pasang. Sungai Deli yang berasal dari Kabupaten Karo bermuara di utara Medan. Sungai ini melintasi Kabupaten Karo, Deli Serdang dan Medan.

Banjir di Kota Medan, tertutama setelah hujan bukan hal baru. Namun banjir kali ini terbesar dalam lima tahun terakhir dari sisi besarnya debit air yang melimpah. Data dari Balai Besar Wilayah Sungai II Sumut menyebutkan debet air Sungai Deli sempat mencapai angka 150 meter kubik per detik. Adapun pada hari biasa rata-rata sekitar 30 meter kubik per detik.

Adanya kanal banjir yang baru dibangun dengan dana ratusan miliar rupiah tidak mampu membebaskan Medan dari banjir.

"Mereka yang terkena banjir kebanyakan ada di daerah resapan air di pinggir sungai. Solusi yang paling baik adalah memindahkan mereka. Kami menawarkan rumah susun, tetapi tawaran ini tak ada yang menanggapi," tuturnya.

Pemkot Medan, tutur Rusdi, untuk sementara membuka posko kesehatan di titik terdekat dengan pemukiman warga. Adapun bantuan dalam bentuk makanan mulai berdatangan dari partai politik. Sejauh ini belum ada laporan korban jiwa karena banjir.