Laporan wartawan Kompas Alb. Hendriyo Widi Ismanto
BLORA, MINGGU - Serangan bakteri Xanthomas secara sporadis di tiga kecamatan Kabupaten Blora, Jawa Tengah, meluas lantaran menular ke tanaman padi di sekitarnya. Kejadian itu mengakibatkan para petani yang tanaman padinya belum terserang khawatir. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Blora, tanaman padi yang terserang Xanthomas di Kecamatan Ngawen seluas 17 hektar.
Kini, bakteri penyerang akar dan batang tanaman padi itu mengancam 320 hektar tanaman padi lain yang berada di sekitar tanaman padi yang sudah terinfeksi. Di Kecamatan Kunduran, luas tanaman padi yang terserang adalah 31 hektar, sedang yang terancam 82 hektar.
Pada umumnya, bakteri Xanthomas itu menyerang padi varietas Ciherang dan IR 64 berumur 35-60 hari. Ketua Kelompok Tani Sido Muncul, Dukuh Klarean, Desa Bakah, Kecamatan Kunduran, Sholikin (36), Minggu (4/1) di Blora, mengatakan semula bakteri itu menyerang tanaman padi seluas satu hektar. Dalam seminggu, bakteri itu menyebar dan mematikan tujuh hektar tanaman padi. "Semula, para petani tidak tahu penyebabnya. Tahu-tahu daun dan batang padi membusuk, dan setelah dicabut akar padi juga membusuk," kata dia.
Menurut Sholikin, Dinas Pertanian Blora dan Balai Pengkajian Teknologi Pangan (BPTP) Jateng telah membantu fungisida Nordox sebanyak empat kilogram. Bantuan itu tidak mencukupi dan mampu mengatasi wabah itu, lantaran setiap petani hanya mendapat dua sendok. Kejadian itu mengakibatkan sejumlah petani yang tanaman padinya belum terserang bakteri dan tidak menerima fungisida itu khawatir. Mereka berupaya menyelamatkan tanaman padi dengan membeli obat sendiri. "Saya mengeluarkan biaya Rp 200.000 untuk tiga kali penyemprotan, tetapi tanaman padi saya tetap tertular juga," kata Darno (70), petani Desa Bakah.
Secara terpisah, Kepala Subdinas Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Blora Reni Miharti mengemukakan Dinas Pertanian dan kelompok tani telah melakukan penyemprotan massal di Kecamatan Ngawen dan Kunduran. Hasilnya masih akan dipantau dan dievaluasi lagi. "Hasil survei pada 30 September 2008, tingkat kerusakan masuk kategori sedang, 58-59 persen," kata dia.
Namun, kondisi terbaru di lapangan ratusan hektar tanaman padi rusak total karena membusuk dan mengering. Sejumlah petani membiarkan tanaman padi itu, sehingga tumbuh tanaman liar di sekitarnya. "Saya sudah mengobati beberapa kali, tetapi tidak membuahkan hasil. Ya sudah saya biarkan saja. Rencana akan saya tanami lagi pada musim tanam berikut agar tidak tertular," kata Moch Suwarno (39), pemilik dua hektar lahan di Dukuh Klarean.

