Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 19:26 WIB
Asyiknya Merayakan Tahun Baru di Kampung Tugu
Maya Saputri | Kamis, 1 Januari 2009 | 17:30 WIB
|
Share:

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Kelompok Keroncong Tugu sudah seringkali tampil dalam kegiatan di Kampung Tugu misalnya Festival Kampoeng Toegoe di Kompleks Gereja Toegoe, Jakarta Utara, Sabtu (15/11). Pada Kebaktian Natal kelompok musik tersebut juga mengiringi ibadah umat kristiani.

JAKARTA, KAMIS – Tradisi tahun baru di Kampung Tugu masih saja menarik untuk diikuti. Sekitar 15-20 orang keturunan Portugis saling mengunjungi keluarga mereka di kawasan Kampung Tugu, Semper Barat, Jakarta Utara.

Seperti dikatakan koordinator acara Rabu-Rabu, Arthur James Michiels (dalam bahasa Portugis artinya mengekor) di sela menyanyikan lagu keroncong Tugu di rumah sanak familinya, Jakarta Utara, Kamis (1/1).

“Memang ini sudah tradisi sejak jaman nenek moyang kami dulu, kita hanya melestarikan tradisi saja supaya tidak hilang ditelan zaman,” ujar Arthur.

Mereka memulai acara Rabu-Rabu berawal dari rumah Saartje Michiels yang awalnya hanya 10-15 orang. Lalu mereka serombongan berjalan menuju rumah sanak famili di daerah Kampung Tugu. Tak hanya orang tua, tetapi anak-anak keturunan generasi ke-11 Potugis juga ikut menjadi anggota keroncong Tugu.

Ketika sampai di rumah sanak famili, rombongan mereka akan menyampaikan salam ke penghuni rumah dengan mencium pipi kanan dan kiri. Lalu mereka akan menyanyikan lagu-lagu khas keroncong Tugu, mulai dari lagu pop modern, lagu daerah Ambon, Portugis dan Belanda.

Rombongan tersebut akan dijamu berupa makan an dan minuman oleh tuan rumah. Yang menarik, pasti ada sajian minuman bir untuk merekatkan suasana kekeluargaan di antara mereka. Mereka menyanyikan lagu-lagu tersebut sambil berjoget dan minum bersama.

“Pertama rombongan hanya berjumlah 15-20 orang tetapi setelah itu akan bertambah orang, karena penghuni rumah ada yang ikut rombongan sehingga istilahnya saling mengekor, itulah kenapa nama tradisi mengunjungi ini dinamakan tradisi Rabu-Rabu yang artinya mengekor,” ujar Saartje.

Mereka berjalan berkeliling kampung Tugu dan mengunjungi sanak famili hampir 20-an rumah lebih. Saat ini mereka telah mencapai rumah terakhir, sejak pukul 12.00 WIB mereka berangkat dan baru selesai sekitar pukul 17.00 WIB.