Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 20:25 WIB
Sultan Belum Didukung Penuh Keluarga
Johnson Simanjuntak | Rabu, 31 Desember 2008 | 06:27 WIB
|
Share:

JAKARTA, RABU — Pengamat Politik dari Universitas Paramadhina, Bima Arya, mengatakan, tidak didukungnya Sri Sultan Hamengku Buwono X secara penuh oleh keluarga Kesultanan Yogyakarta adalah sebuah fenomena yang sangat menarik. Hal ini karena selama ini Sultan selalu mencari dukungan di luar Yogyakarta karena alasan dukungan di Yogyakarta sendiri sudah didapatnya. Namun, pada kenyataannya dari keluarga pun ia tidak didukung penuh.

“Ini sebuah hal yang menarik karena klaim Sultan dan timnya yang menggambarkan bahwa seolah dirinya telah mendapatkan dukungan penuh masyarakat Yogyakarta ternyata tidak benar karena anggota keluarganya pun tidak mendukungnya,” ujar Bima, Selasa (30/12).

Menurut Bima, jika mau melihat secara jujur, fenomena penolakan Sultan oleh keluarganya sendiri ini mungkin disebabkan karena Sultan sendiri secara track record sulit diukur keberhasilannya. Sultan pun selama ini dalam kampanyenya tidak pernah memberikan data-data yang kongkret mengenai keberhasilan dirinya selama memimpin Yogyakarta.

“Menurut saya, setiap pemimpin daerah yang berhasil memiliki hak untuk maju menjadi pimpinan nasional. Banyak pemimpin daerah yang bisa diukur keberhasilannya, seperti Fadel Muhammad di Gorontalo, Zulkifli Noerdin di Jambi, karena misalnya adanya peningkatan PAD, keberhasilan pembangunan, dan sebagainya. Namun untuk Sultan, sulit mengukur keberhasilannya karena lingkungan kesultanan penuh dengan nuansa feodalisme dan aristokrat,” katanya.

Selama ini pencalonan Sultan pun, kata Bima, hanya dilandasi oleh pemikirannya semata bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin alternatif sehingga Sultan hanya menggunakan psikologi publik bahwa publik membutuhkan pemimpin alternatif itu saja. “Pada kenyataannya, kita hanya mendengar mengenai visi Sultan mengenai pembangunan Indonesia ke depan, namun tidak pernah sekalipun mendengar Sultan memaparkan keberhasilannya selama memimpin Yogyakarta yang disertai data-data yang mendukungnya,” tambahnya.

Mengenai klaim Ketua Tim Pelangi yang merupakan tim sukses Sultan, Sukardi Rinangkit bahwa dirinya yakin Sultan akan menang mengingat kultur feodalisme masih sangat menentukan pemilih di Indonesia, Bima membantahnya. Masyarakat Indonesia saat ini justru sudah sangat rasional dalam menentukan pilihan pemimpinnya.

“Saya juga mendengar bahwa Sultan mengatakan dirinya tidak feodal dan justru pemimpin-pemimpin sekarang yang feodal karena masih mengunakan ajudan sementara dirinya tidak memiliki ajudan, menurut saya itu bukanlah lambing feodal tidaknya seseorang. Feodalisme itu ada pada sifat bukan pada hal-hal seperti itu dan saya rasa Sultan masih menjual feodalisme semata seperti menjual akan munculnya ratu adil ataupun mitos-mitos lainnya dan ini tidak akan laku dijual kepada pemilih,” ujar Direktur Ekesekutif Leads Institute ini lagi.

Lambang lain bukti bahwa Sultan masih feodal pun menurut Bima bisa dilihat dari pernyataanya yang menegaskan bahwa rakyat Indonesia masih belum siap berdemokrasi. “Ini yang saya katakan ciri feodalisme yaitu pemimpin selalu benar dan cenderung menyalahkan orang lain dalam hal ini rakyat yang disalahkan,” tegasnya.

Sebelumnya dari pengakuan Sutiyoso dikabarkan bahwa dirinya mendapatkan dukungan dari trah keturunan Sultan HB VII. Salah satu keturunan Sultan HB VII, yang juga pimpinan Grinda Pancasila Mamayu Buwono, RAY Wisnu Wardhana Suryodiningrat justru menilai mantan gubernur DKI Jakarta 2 periode ini secara fisik sudah memiliki kualifikasi sebagai pemimpin masa depan. "Oleh karena itu, kita tinggal memberikan bekal spiritual dan doa dari sesepuh masyarakat Jogjakarta agar beliau bisa memimpin negeri ini kelak," tambahnya.

Menurutnya, Sutiyoso sebagai pemimpin telah terbukti memiliki keberanian, ketegasan dan teruji dalam memimpin Jakarta yang merupakan ’miniatur’ Indonesia. "Masyarakat Jogja pun secara tersirat menilai, Sutiyoso merupakan tokoh yang mampu memimpin negara ini dan membangkitkan lagi kejayaan nusantara yang diakui oleh dunia seperti zaman keemasan Majapahit dulu," katanya.

Selain itu, Sutiyoso mengkritik para pemimpin negeri ini yang salah dalam mengelola aset bangsa. Namun, kata Bang Yos, bangsa ini tak perlu lagi mengorek-ngorek masa lalu.  ”Semua dijadikan saja sebagai pengalaman buruk. Dan inilah saatnya untuk bangkit bersama mewujudkan cita-cita bangsa, meningkatkan kesejahteraan. Bersama kita menorehkan nama harum Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dalam pergaulan internasional, " ungkapnya.

Masyarakat Jogja pun menurutnya secara tersirat menilai, Sutiyoso merupakan tokoh yang mampu memimpin negara ini dan membangkitkan lagi kejayaan nusantara yang diakui oleh dunia seperti zaman keemasan Majapahit dulu.

Sumber :
Persda Network