Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 19:21 WIB
Siapa Pikirkan Nasib Anak-anak?
| Rabu, 31 Desember 2008 | 03:51 WIB
|
Share:

AP photo/Hatem Omar
Warga Palestina menggotong mayat di antara reruntuhan menyusul serangan rudal Israel di Rafah, selatan Jalur Gaza, Sabtu (27/12). Pesawat-pesawat Israel membombardir sejumlah markas pertahanan Hamas di sekitar Gaza. Menurut petugas medis di Gaza, lebih dari 120 orang tewas dan sekitar 250 orang luka-luka.

TERKAIT:

Suara pesawat-pesawat tempur yang mendekat diikuti suara ledakan bom yang tak kunjung berhenti selama empat hari terakhir membuat anak-anak Gaza trauma. Setiap saat itu pula mereka harus cepat-cepat lari ke tempat berlindung.

Siapa yang bisa hidup aman dan tenteram jika harus selalu deg-degan mendengar suara pesawat dan ledakan yang dahsyat. Siapa yang bisa beraktivitas dengan normal jika setiap saat harus lari terbirit-birit menyelamatkan diri ke tempat berlindung. ”Kami takut akan bisa mati setiap saat,” kata Mohammed Ayyad (11) yang mengaku masih gemetar beberapa jam setelah pesawat-pesawat Israel membombardir gedung pemerintahan Hamas yang dekat dengan rumahnya di Gaza.

Seperti halnya anak-anak lain di Gaza, Ayyad mengalami trauma dan ketakutan luar biasa sejak militer Israel menyerang habis-habisan lokasi-lokasi yang dianggap penting bagi Hamas. Akibat serangan intensif Israel itu, pemandangan sebagian besar wilayah Gaza hanya puing bangunan dan pecahan kaca jendela. ”Ketika bom Israel masuk ke pusat kota Gaza City, kami mendengar ledakan dahsyat. Kami lari tunggang langgang masuk ke ruangan bawah tanah. Ketika keluar, rumah kami penuh debu,” tutur Ayyad.

Saking takutnya, adik Ayyad, Ahmad (6), menangis terus dan kencing di celana. ”Kami semua takut karena pesawat-pesawat itu selalu ada di atas. Kami bisa mati kapan saja,” kata Ayyad yang tidak bisa lagi belajar di sekolah karena semua sekolah di Gaza diliburkan sejak serangan Israel dimulai Sabtu lalu.

Untuk mengisi waktu senggang ketika kondisi keamanan ”agak aman”, banyak anak yang mengendap-endap keluar rumah untuk melihat kerusakan setelah serangan. Di dekat rumah Ayyad, sekelompok anak mengelilingi puing reruntuhan bangunan kantor pemerintahan Hamas. ”Takut sih takut, tetapi berada di dalam rumah atau di luar rumah sama saja risikonya, mati,” kata Ayyad.

Anak lainnya, Mohammed Bassal, bercerita, ia dan adiknya, Nidal (12), selalu ketakutan ketika terjadi serangan pada malam hari. Pecahan kaca jendela yang jatuh di atas kepala dan listrik yang mendadak padam membuat Bassal dan adiknya menjerit ketakutan. ”Ibu kami datang dan memeluk kami. Orang Yahudi itu memang gila. Mereka menyerang siapa saja, termasuk anak-anak,” ujarnya.

Iyad al-Sayagh, ibu yang tinggal dekat dengan keluarga Bassal, juga trauma dengan pengeboman Israel yang dianggapnya sangat menakutkan. Apalagi ketika tanah tempatnya berpijak terguncang keras saat bom mendarat. ”Setiap kali ada serangan, saya harus lari bawa anak-anak ke bawah tanah. Suara ledakan sekecil apa pun kini terdengar menakutkan,” ujarnya.

Abdel Jalil al-Khatib yang sedang membersihkan jendela rumahnya yang kini tidak berkaca mengaku sudah tidak tidur selama tiga hari. Begitu pula dengan anak-anaknya. ”Serangan pada malam hari itu mengubah Gaza menjadi neraka. Mereka bilang mau menghancurkan Hamas, tetapi itu bohong,” ujarnya.

Berdasarkan catatan medis Gaza, sedikitnya 39 anak di bawah usia 16 tahun meninggal akibat serangan Israel. Di antara ke-39 anak itu, korban yang terakhir adalah kakak beradik berusia 4 dan 11 tahun. Keduanya meninggal ketika kereta kuda yang tengah mereka naiki dihajar peluru kendali dari salah satu pesawat Israel di Jalur Gaza. Sebelumnya, lima kakak beradik meninggal ketika rudal Israel menerjang masjid tempat mereka tengah berada.

”Yang terjadi saat ini adalah pembunuhan massal warga Gaza. Tidak akan ada yang bisa lupa. Orang dewasa, terutama anak-anak, akan mengalami depresi, insomnia, dan skizofrenia,” kata psikolog di Program Komunitas Kesehatan Mental Gaza, Samir Zaqut. (AFP/LUK)

Sumber :
Kompas Cetak