KOMPAS
Jumat, 19 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Mangrove di Pati Tinggal 10 Persen
Rabu, 31 Desember 2008 | 00:11 WIB
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Siswa SD Negeri Bedono 1, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Selasa (14/10), menanam bibit mangrove bantuan dari Organization For Industrial, Spiritual, Cultural and Advancement (OISCA) Jepang. Penanaman mangrove tersebut untuk menyelamatkan pantai dari terjangan gelombang dan mencegah sekolah mereka dari ancaman rob.
TERKAIT:

PATI, RABU - Tanaman mangrove (bakau) yang pernah tumbuh dan berkembang di sepanjang pantai wilayah Kabupaten Pati, kini tinggal sekitar 10 persen saja yang masih tersisa dan butuh waktu sangat lama untuk memulihkannya. Apalagi panjang pantainya sekitar 60 kilometer.

Oleh karena itu, menurut Kepala Sub Dinas Bina Program Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Edy Harto di ruang kerjanya, Selasa (30/12), untuk mengatasinya harus m enggunakan jurus baru, yaitu pembentukan kelompok warga peduli mangrove di masing-masing desa wilayah pantai. "Selain itu, kami juga telah mengawali dengan mensertifikatkan tanah seluas dua hektar dengan hak pakai selama 20 tahun dan kami telah kami tanami mangrove. Ini boleh dikatakan sebagai proyek percontohan bagi warga setempat. Tujuan idealnya kembali pada kondisi tahun 1971," tuturnya.

Ketika di sepanjang pantai dari wilayah Kecamatan Dukuhseti hingga Batangan, masih dipenuhi banyak tanaman man grove, maka salah satu keuntungan warga setempat, tinggal mengalirkan sebagian air di seputar tanaman menuju lokasi tambak terdekat. Benih aneka jenis ikan, udang, masuk secara gratis dan tumbuh berkembang secara alami. Selain itu tidak ada abrasi.

Namun menurut Edy Harto, setelah hutan bakau dibabat habis untuk kayu bakar dan dijadikan tambak tambak liar, maka kondisinya berbalik rusak parah. Ini diperparah dengan buangan limbah cair tapioka dari kompelk industri tapioka Margoyoso. Limbah industri kuningan di Juwana, serta limbah dari pabrik gula di Trangkil. Akibat langsung, sebagian besar petambak udang maupun bandeng bangkrut. Begitu pula sumber hayati musnah. Abrasi semakin meluas,

Menurut Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Pemali Jratun, Jajat Jatmiko pada Semiloka Lingkungan Hidup yang digelar di Pati, 21 November 2007, kondisi hutan mangrove mengalami tekanan akibat pemanfaatan dan pengelolaannya kurang memperhatikan lingkungan

Ia menambahkan, berdasarkan hasil inventarisasi dan identifikasi selama 2006, luas hutan mangrove yang tersebar di 13 kabupaten/kota dan di sepanjang 484 kilometer pantai di pantai utara Jawa Tengah, mencapai 50.690 hektar. Ditambah hutan pantai 26.638 hektar. Sedang kerusakan berat hutan mangrove te rcatat 249,8 hektar dan terjadi di Kabupaten Kendal, Rembang dan Pati. Abrasi mencapai 2.910 hektar.

Sedang menurut data yang disodorkan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pati pada Semiloka Lingkungan Hidup Menyelamatkan dan Memulihkan hutan Mangrove untuk Mendukung Kelestarian dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Pati 21 November 2007, untuk mengurangi laju kerusakan hutan mangrove, Pemkab Pati dan Departemen Kehutanan telah menggulirkan program rehabilitasi sejak 2002. Sampai dengan akhir anggaran 2007, telah direhab sekitar 1.435 hektar.

Penulis: SUP   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.