Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 04:41 WIB
Depkes Kukuhkan Dua Profesor Riset
Briko Alwiyanto | Selasa, 30 Desember 2008 | 13:05 WIB
|
Share:

JAKARTA, SELASA – Departemen Kesehatan bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  hari ini mengukuhkan dua profesor riset, yakni Supratman Sukowati dalam bidang Biologi Lingkungan dan Komari dalam bidang Ilmu Pangan dan Gizi.

Pengukuhan yang dilaksanakan di Depkes, Selasa (30/12), dilakukan oleh Ketua LIPI Umar Jeni didampingi Kepala Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan Depkes, Triono Sundoro. Keduanya berasal dari Balibangkes Depkes.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Masalah keragaman spesies vektor malaria dan cara pengendaliannya di Indonesia", Supratman Soekowati mengungkapkan, pengendalian malaria tidak akan berhasil jika hanya menggunakan metode intervensi seragam dan hanya melalui pendekatan entomologi.

"Oleh karena itu, perlu diterapkan pengendalian sektor terpadu, yaitu kombinasi beberapa metode yang bersinergi sebagai bagian dari pengendalian malaria," ujarnya.

Ia menyatakan, peran pemangku kepentingan dan masyarakat harus aktif dalam mencegah penyebaran vektor ini lebih luas. Hal tersebut berlandaskan pada sistem ramah lingkungan, bersifat rasional, ekonomis, layak berkesinambungan, dan sesuai dengan sosial budaya setempat sehingga bisa diterima oleh semua masyarakat.

Berdasarkan hasil risetnya, diketahui sekitar 4.500 spesies nyamuk dalam 34 genus dari famili culicidae. Hanya spesies dari genus anopheles yang berperan sebagai vektor malaria pada manusia. Jumlah anopheles yang telah dilaporkan di Indonesia sebanyak 80 spesies (17,18 persen) dan 22 di antaranya telah dikonfirmasi sebagai vektor malaria (2,14 persen).

"Diperkirakan pada lima tahun terakhir ini, penduduk Indonesia yang tinggal di daerah berisiko malaria sebesar 49,6 persen. Yaitu kabupaten endemis malaria sebesar 309 atau 70 persen," jelasnya.

Sementara itu, Komari dalam orasinya yang berjudul "Program Intervensi Gizi: Fortifikasi zat gizi mikro pada garam dan parameter nutrigenomic" menyatakan bahwa masalah kekurangan zat gizi mikro merupakan fenomena yang sangat jelas, menunjukkan rendahnya asupan gizi dari menu sehari-hari.

Metode fortifikasi merupakan intervensi gizi yang mampu menjamin konsumsi makanan masyarakat mengandung cukup zat gizi mikro. Caranya dengan menambahkan zat gizi mikro yakni zat besi, yodium, dan vitamin A dalam satu wahana berupa garam.

"Perkembangan dengan tripel fortifikasi pada garam telah menunjukkan pengaruh pada peningkatan status gizi pada masyarakat," ujarnya.

Selain itu, parameter nutrigenomic sangat diperlukan untuk menjamin bahwa fortifikasi zat gizi mikro dapat menstabilkan metabolisme sehingga status gizi tetap dalam keadaan seimbang,"

"Pelaksanaan fortifikasi ini mencapai sekitar 35 tahun sejak dicanangkannya yodisasi garam dan baru sekitar 5 tahun ini penambahan zat besi ke dalam tepung terigu. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk segera menjamin kecukupan zat gizi mikro di dalam menu makanan masyarakat," paparnya.