MAKASSAR, SELASA — Ekspor kakao nasional tahun 2008 mengalami penurunan sekitar 20 persen dari realisasi ekspor 2007 lalu yang mencapai 532.000 ton.
"Proyeksi penurunan ekspor kakao ke luar negeri ini, selain karena turunnya produksi kakao dari tahun ke tahun, juga karena imbas dari krisis ekonomi global," jelas Ketua Umum DPP Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Halim Razak, Selasa (30/12), menanggapi kondisi perdagangan kakao Indonesia.
Menurutnya, penurunan ekspor kakao yang dipengaruhi oleh jumlah produksi itu terjadi secara gradual per tahun. Sebagai gambaran, pada tahun 2006 produksi kakao nasional masih mencapai sekitar 900.000 ton, kemudian menurun pada tahun 2007 menjadi 532.000 ton, dan tahun ini diprediksi sekitar 490.000 ton.
Sementara itu, pemenuhan kebutuhan dalam negeri, lanjutnya, rata-rata 230.000 ton per tahun. Dengan demikian, jika produksi kakao mengalami penurunan, sementara kebutuhan dalam negeri relatif tetap, maka alokasi ekspor kakao menjadi menurun.
Kondisi itu diperparah dengan anjloknya harga kakao di pasar mancanegara dalam enam bulan terakhir. Pada September 2008 lalu, harga kakao masih 2.600 dollar AS per ton, kini hanya berkisar 2100 dollar AS ton, sementara harga kakao di tingkat pasar lokal pada September 2008 masih Rp 3.500/kg, tetapi kini hanya sekitar Rp 18.000/kg.
Terkait dengan produksi kakao di Sulsel yang semakin menurun, putra daerah ini yang juga mantan Ketua Askindo Sulsel mengatakan, produksi kakao di Sulsel dan Sulbar rata-rata hanya 500 kg/ha/tahun. Padahal, idealnya sekitar 1,5 ton/ha/tahun.
"Hal itu disebabkan karena sebagian besar tanaman kakao sudah berumur di atas 15 tahun sehingga kurang produktif lagi. Selain itu, juga disebabkan oleh hama penggerek buah kakao (PBK) dan penyakit VSD," katanya.
Menyikapi hal tersebut, ia berharap agar pemerintah setempat segera melakukan peremajaan tanaman kakao dan membantu petani kakao dalam memberantas hama dan penyakit tanaman kakao yang dapat menurunkan produksi.
Hal tersebut, sangat urgen dilakukan mengingat Sulsel dan Sulbar merupakan provinsi yang memberikan kontribusi terbesar terhadap ekspor kakao nasional dengan rata-rata kontribusi sekitar 70 persen dari total volume ekspor per tahun.
