Senin, 22 September 2014

News / Megapolitan

Kemping dengan Fasilitas Hotel

Sabtu, 27 Desember 2008 | 14:38 WIB

Ingin merasakan kemping, tetapi tidak tahu di mana tempat yang indah? Atau ingin kemping, tetapi tidak punya peralatan kemping? Atau… ingin sekali kemping, tetapi kalau ingin ke kamar mandi bagaimana? Tidak terbayang repotnya kalau harus mandi di sungai….

Kegiatan luar ruang seperti treking, permainan tantangan, arung jeram, dan juga kemping telah menjadi bagian dari daftar pilihan kegiatan mengisi liburan warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) sejak tahun 2000. Warga Jabodetabek yang sudah hafal semua lorong di pusat-pusat perbelanjaan kini mencari sesuatu yang baru di alam terbuka.

Mereka ingin mendapatkan suasana yang berbeda, pemandangan yang indah, udara segar, dan juga pengalaman seru menegangkan. Namun, mereka juga ingin merasakan semua itu dengan nyaman, tidak repot, tidak terlalu capek, dan tentu saja tidak harus berkotor-kotor.

Misalnya saja untuk kemping. Tidak terbayangkan tentunya jika harus membawa banyak barang, selain membawa tenda dan kantong tidur. Apalagi harus berjalan jauh sambil membawa barang banyak.

Kemudian harus mencari semak-semak jika ingin membuang hajat, harus bergelap-gelapan di malam hari, dan menyiapkan banyak alat proteksi diri guna menghindari binatang liar berbahaya, seperti ular.

Kebutuhan masyarakat Jabodetabek akan hiburan alam yang tidak merepotkan membentuk gaya hidup tersendiri. Ini melengkapi keragaman gaya hidup orang perkotaan selama ini. Persis seperti gaya hidup mal bagi para penggemar pusat perbelanjaan atau gaya hidup kafe bagi mereka yang gemar melewatkan waktu luang dengan ngopi di gerai-gerai kopi nan nyaman dan tentu saja mahal.

Kini muncul satu lagi sebutan, yaitu five star camping lifestyle alias gaya hidup alam bebas, khususnya kemping, mewah dengan gaya hotel bintang lima.

Tak heran bermunculan banyak tempat wisata alam dibuka di sekitar lereng Gunung Gede-Pangrango, yakni di Kabupaten Bogor dan Sukabumi. Para pengelola tempat-tempat tersebut menawarkan sesuatu yang amat berbeda, bumi perkemahan yang sarat fasilitas layaknya hotel bintang lima.

Resort Camp Site Rumah Dua yang terletak di kawasan Taman Safari, Cisarua, dan Tanakita 5 Stars Camp Site yang dikelola Rakata Adventure di hutan lindung Situ Gunung, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, Sukabumi, adalah contoh tempat kemping yang nyaman itu. ”Tempat kemping ini kami tujukan bagi orang yang semasa mudanya gemar naik gunung, lalu sekarang ingin mengenang keasyikan itu dengan cara yang lebih nyaman,” kata Bambang Sumantri, salah seorang petugas dari Rumah Dua.

Kemping ala resor atau hotel berbintang ini memang jauh dari kemping ala pendaki gunung. Begitu peserta datang, mereka langsung dijemput dengan mobil khusus dari tempat parkir. Tas dan barang bawaan tamu dimasukkan ke mobil berbeda untuk dibawa ke tenda masing-masing tamu, persis layanan concierge di hotel.

Tenda tempat para tamu menginap diberi alas sehingga penghuni tidak akan menggigil karena dingin yang menembus dari dasar tenda. Di Rumah Dua, setiap tenda diletakkan di atas panggung kecil setinggi 50 cm. Sedangkan di Rakata, setiap tenda dialasi dengan palet plastik setebal 10 cm dan terpal.

Tarif

Di mulut tenda diberikan keset untuk membersihkan kaki yang kotor setelah berjalan-jalan di luar. Sementara di Rumah Dua, di setiap mulut tenda diberikan ember berisi air untuk membasuh kaki. Tenda juga terbagi dalam beberapa ruangan, seperti ruang depan, ruang tengah, dan ruang utama atau tempat tidur.

Untuk tidur, di Tanakita yang terletak sekitar 130 kilometer dari Jakarta ini telah disiapkan kasur busa ditambah kantong tidur yang di sini berubah fungsi sebagai selimut. Sudah pasti sangat hangat. Ukuran tenda bermacam-macam. Ada yang 2-3 orang per tenda, atau 4-6 orang per tenda.

”Konsep kami adalah kemping dengan fasilitas hotel bintang lima. Kasur dan bantal yang empuk, selimut hangat, ada rak sepatu, jemuran kecil, lampu listrik dan terminal listrik, bisa untuk mengisi baterai telepon genggam atau laptop,” kata Deddy, salah seorang petugas dari Tanakita.

Dengan konsep resor dan hotel ini, sudah pasti ada kamar mandi yang bersih dengan WC duduk. Pancuran dengan air panas juga tersedia, dan juga konsumsi. Di Rakata yang mulai beroperasi tahun 2006 ini, dengan tarif Rp 450.000 per orang, peserta bisa mendapatkan segala fasilitas dan permainan yang ada dengan makan tiga kali dan makanan kecil dua kali.

Di Rumah Dua yang sudah beroperasi sejak tahun 2000, mereka menetapkan tarif Rp 600.000 per tenda untuk tiga orang. Tarif itu termasuk mendapatkan dua kali makan dan makanan kecil.

”Kami hanya menyediakan makan malam dan makan pagi. Biasanya para tamu memilih untuk makan siang di luar. Apabila ada tambahan orang dalam satu tenda, mereka akan dikenai biaya tambahan sebesar Rp 100.000 untuk makan,” kata Bambang.

Permainan

Tidak seru agaknya jika kemping tidak diikuti dengan kegiatan yang mengasyikkan. Rakata ataupun Rumah Dua menawarkan kegiatan wisata alam, dari treking ke hutan, jalan menyusur sungai hingga ke air terjun, hingga permainan tantangan (outbond), seperti monkey track dan flying fox.

Di sini para peserta diajak untuk melakukan aktivitas yang tidak hanya menyehatkan, juga membangun keakraban dan menyemburkan adrenalin untuk kesegaran jiwa.

Rakata juga menawarkan pemerahan susu dan memanen di ladang serta memandikan kerbau di sawah. Rumah Dua menawarkan penanaman pohon di areal proyek penghijauan hutan, belajar konservasi alam, serta melihat spesies-spesies hewan dan tanaman yang ditemukan di hutan sekitar Taman Safari.

Romantisisme

Selain itu, pada malam hari para peserta juga diajak melihat penangkaran macan dan rusa. Mereka yang ingin naik gunung juga disediakan trek dari yang termudah hingga trek dengan kesulitan tinggi.

Bagi anak-anak, Deddy mengatakan, ada banyak program khusus buat mereka. ”Kami memberikan kesempatan kepada anak-anak belajar memasak. Biasanya kami mengajarkan mereka membuat panekuk untuk sarapan pagi,” katanya.

Pada malam hari, para peserta diajak untuk mengelilingi api unggun. Sambil merasakan pisang, ubi, dan kacang rebus, serta denting gitar, suasana romantis di tempat kemping mulai menyusup ke dalam hati para peserta. Menyisakan keindahan alam dalam sanubari.


Editor :
Sumber: