Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 17:39 WIB
Tak Ada Sanksi Bagi Kader Golkar Maju Pilpres
Wahyu Satriani Ari Wulan | Jumat, 26 Desember 2008 | 17:45 WIB
|
Share:

KOMPAS/ALIF ICHWAN
Ketua Umum Partai Golkar yang juga Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah), didampingi Wakil Ketua Umum Agung Laksono (kiri) dan Ketua Harian II Bappilu Pusat Partai Golkar Firman Subagyo (kanan), berbincang sesaat sebelum dimulainya pembukaan Diklat Juru Kampanye Nasional Partai Golkar 2009 di Jakarta, Minggu (23/11) malam. Diklat jurkam pemilu mengambil tema "Merebut dan Mewujudkan 30 Persen Suara Partai Golkar pada Pemilu 2009", berlangsung hingga 30 November yang akan datang.

TERKAIT:

JAKARTA, JUMAT-Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla menegaskan Partai Golkar tidak akan memberikan sanksi terhadap anggota Partai Golkar yang mencalonkan diri sebagai Presiden.

"Golkar tidak memberikan sanksi. Kalau mau mencalonkan diri, ya silakan saja," kata Jusuf Kalla, saat jumpa pers akhir tahun DPP Golkar, di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Jumat (26/12).

Kalla mengatakan ada dua hak asasi dalam politik, yakni hak memilih dan dipilih. Begitu juga bagi anggota partai Golkar yang mempunyai hak memilih dan dipilih menjadi calon presiden (capres). Hanya saja, kata Kalla, untuk mencalonkan diri menjadi capres, semua anggota harus mengikuti aturan dalam Partai Golkar.

"Semua ada aturannya. Kalau ingin jadi capres tidak boleh aktif di kegiatan tersebut di dalam Partai," tutur Kalla. Lebih lanjut Kalla meminta agar kader-kadernya mendahulukan kewajibannya terlebih dahulu sebelum haknya. Di mana kader lebih mengutamakan untuk memberikan sumbangsihnya kepada partai, baru kemudian meminta haknya.

"Itu cara penilaian partai kepada teman-teman yang mempunyai minat menjadi capres. Jadi perlu mendahulukan kewajiban daripada hak. Jangan dulu tanyakan apa yang partai berikan tapi apa yang Anda berikan pada partai," tutur Kalla.

Dalam acara ini juga dihadiri antara lain Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono, Sekjen Golkar Sumarsono, dan sejumlah tokoh Golkar lain seperti  Muladi,  Syamsul Muarif, dan Andi Matalatta.