Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 17:37 WIB
Pemerintah Galakkan Diversifikasi Ekspor
Wahyu Satriani Ari Wulan | Senin, 22 Desember 2008 | 18:04 WIB
|
Share:

Kompas/Lucky Pransiska
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyimak pertanyaan anggota Komisi VI DPR saat rapat kerja di Gedung DPR, Jakarta, Senin (23/6). Raker membahas rencana kerja pemerintah tahun 2009, antara lain membicarakan target ekspor dan rencana pembangunan di sektor perdagangan tahun 2009.

TERKAIT:

JAKARTA, SENIN — Pemerintah menggalakkan diversifikasi ekspor untuk mengantisipasi dampak krisis keuangan global. Pasar yang akan disasar seperti negara di Afrika, Timur Tengah, serta Brasil.

"Diharapkan diversifikasi pasar ini mampu mendorong pertumbuhan ekspor tahun depan," tutur Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Jakarta, Senin (22/12).

Diversifikasi ini dilakukan melihat kinerja ekspor nonmigas Indonesia untuk kawasan Afrika dan Timur Tengah menunjukkan tren meningkat dalam 5 tahun terakhir (2003-2007) dengan peningkatan rata-rata 19,02 persen per tahun, dari sekitar 3 miliar dollar AS pada tahun 2003 menjadi 6 miliar dollar AS pada tahun 2007.

Pesaing utama Indonesia dari Asia untuk pasar Timur Tengah yakni China, Malaysia, Thailand, Taiwan, Jepang, Vietnam, dan Singapura. Selain itu, menurut Mari, tahun depan Indonesia perlu meningkatkan produk-produk ekspor potensial, khususnya produk industri dengan meningkatkan daya saing dan mengembangkan akses global karena tantangan yang akan semakin berat.

"Ke depan kita harus berusaha lebih giat dalam mengembangkan ekonomi sektor-sektor baru yang mampu menghasilkan produk berdaya saing tinggi dan dapat diterima di pasar global," kata Mari.

Mari mengatakan, kinerja ekspor tahun 2008 cukup baik meski mengalami krisis keuangan global. Periode Januari sampai Oktober 2008 total ekspor Indonesia mencapai 118,4 miliar dollar AS atau meningkat 26,9 persen dibanding tahun lalu.

Sedangkan ekspor nonmigas mencapai 92,3 miliar dollar AS atau mengalami kenaikan 21,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. "Kinerja ekspor nonmigas bagus pada dua kuartal pertama, namun mulai mengalami perlambatan pertumbuhan pada kuartal ketiga sebagai dampak krisis," ujar Mari.