Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 17:37 WIB
Kinerja Dinilai Buruk, SBY-JK Masih Disukai
Inggried Dwi Wedhaswary | Senin, 22 Desember 2008 | 14:10 WIB
|
Share:

Laporan wartawan Kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, SENIN — Penilaian buruk atas kinerja pemerintahan SBY-JK ternyata tak berpengaruh dengan tingkat kesukaan masyarakat terhadap duo tersebut. Hasil Survei Nasional Putaran III Reform Institute menunjukkan hasil yang kontradiktif. Di seluruh bidang, kinerja pemerintahan SBY-JK sepanjang 2008 dinilai buruk. Namun, tingkat sentimen publik pada kepemimpinan SBY-JK justru semakin positif.

Survei yang dilakukan pada November-Desember 2008 terhadap 2.500 responden menunjukkan, 75,48 persen masih menyukai kepemimpinan SBY-JK, dan hanya 22,68 persen yang tak suka SBY-JK. Sisanya, 1,84 persen tak memberikan jawaban.

"Dari persepsi masyarakat, survei ini menunjukkan kinerja SBY-JK, seluruh indikator memperlihatkan kegagalan. Bahkan lebih buruk dibandingkan dengan survei sebelumnya. Yang mengalami perbaikan hanya di level politik. Menjadi menarik ketika dikontraskan, kinerja buruk, tapi popularitas naik," kata Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif, saat menyampaikan hasil survei lembaganya, di Jakarta, Senin (22/12).

Fenomena ini, menurut Yudi, merupakan black box dunia politik Indonesia. "Mungkin karena tokoh politik lain belum secara optimal memanfaatkan kelemahan SBY. Tapi dari segi kepartaian, Demokrat naik tajam," lanjut Yudi.

Ketika ditanyakan siapa yang akan dipilih jika Pilpres dilakukan saat ini, 42,18 persen masih menjatuhkan pilihannya kepada SBY. Disusul Megawati dengan 16,67 persen dan Sri Sultan HB X dengan 10,48 persen. "SBY memang masih jadi capres dengan tingkat elektabilitas paling tinggi, dukungannya melonjak drastis dalam 3 bulan terakhir," kata peneliti Reform Institute Khalid Novianto, Senin (22/12) di Jakarta.

Tingginya dukungan kepada SBY diprediksi berasal dari swing voters, sedangkan rendahnya dukungan terhadap Megawati dinilai karena massa Mega hanya berasal dari massa tradisional PDI-P yang jumlahnya berkisar 18-19 persen.

Sultan, elektabilitasnya mengalami kenaikan meski tak signifikan. Tokoh lainnya, seperti Prabowo Subianto dan Wiranto, juga tak mengalami kenaikan melonjak dari sisi popularitas dan elektabilitasnya. Namun, pilihan ini masih bisa berubah sebab 57,82 persen responden menyatakan pilihannya masih bisa berubah. Hanya 39,70 persen responden yang menyatakan tetap pada pilihannya saat pemilu dilakukan pada September 2009 mendatang.